Rabu, 10 Februari 2016

Makalah Pendekatan Ekspresif



TEORI SASTRA
ANALISIS DENGAN PENDEKATAN EKSPRESIF


KELOMPOK 13
NAMA                                                                             NPM
1.      Mega Aulia                                                                             15410183
2.      Intan Maulia Marta                                                                 15410184
3.      Syafiatul Ufiyah                                                                     15410185
4.      Elysa Mayasari                                                                       15410186

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2015/2016

Analisis dengan pendektan ekspresif
A.    Pengertiam Kritik Ekspresif
Kritik berasal dari kata κριτεσ-krites (Yunani) yang artinya hakim. Kata ini berasal dari kata kerja κρίνειν-krinein yang berarti menghakimi. Selanjutnya muncul kata kritikos yang artinya hakim karya sastra.Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi Hal inilah yang mengawali pemikiran Plato tentang "pertentangan purba antara puisi dan filsafat. Pada tahun 405 SM Aristophanes secara lebih tebuka mengkritik Euripides yang begitu menjunjung nilai seni tanpa memperhatikan nilai sosial. Aristoteles kemudian menulis buku mengenai kritik sastra yang mulai menemukan bentuk yang berjudul Poetica. Pada masa ini Plato memunculkan tiga poin penting mengenai baiknya suatu karya sastra : memberikan ajaran moral yang lebih tinggi; memberikan kenikmatan; dan memberikan ketepatan dalam bentuk pengungkapannya.
Pendekatan Ekspresif Kritik ekspresif mendefinisikan karya sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan; kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran, dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut (Pradopo, 1997:193). Dan pendapat lain menyatakan, pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Menurut Semi (1984), pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra. Pendekatan kritik ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra.
Dari definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa, Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
B.     Ciri-ciri teori kritik ekspresif
Dalam melakukan Kritik Ekspresif  bukanlah hal yang tanpa pedoman. Berikut ciri-ciri teori kritik ekspresif ( Abrams) :
   -  Lebih menitikberatkan pada pengaran.
   -  Melihat sastra lebih dekat hubugannya dengan kajian biografis.
   - Pengarang memiliki peranan penuh terhadap karya yang dibuatnya.
    - Sastra dinilai tidak pernah lepas dari manifesto pengarang.
    - Fokus utamanaya tidak berupa diri si pengarang, melainkan juga ide, pikiran, perasaan, dan ciptaan dari pengarang.
    - Memungkinkan dikoloborasikan dengan teori yang lain, misalnya postkolonial.

C.     Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Ekspresif
Dalam melakukan kritik  sebuah karya sastra diperlukan sebuah tahapan  atau langkah-langkah untuk melakukan sebuah proses kritik dalam karya sastra. Berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh kritikus dalam melakukan pengeritikan pada sebuah karya sastra :
1.      Seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
2.      Melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya.
3.      Mengaitkan hasil penafsiran dengan bedasarkan tinjuan psikologis kejiwaan pengarang.

D.    Kriteria Kritik dalam Pendekatan Ekspresif

Dalam kriteria kritik sebuah karya sastra memiliki unsur-unsur sebagai pedoman dalam mengeritik sebuah karya satra. Agar kritik yang disampaikan oleh kritikus pada sebuah karya sastra dapat ditanggung jawabkan sesuai dengan teori. Berikut kriteria kritik dalam pendekatan ekspresif :

1.      Kriterium Ekspresivitas
Sebuah karya sastra yang baik bila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan baik.
2.      Kriterium Intensi
Sebuah karya sastra dikatakan baik bila intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan baik atau selaras dengan norma-normanya.

E.     Peran dan Fungsi Kritik Sastra

1.      Peran Kritik Sastra
 Tanggung jawab yang profesional, dalam arti hasil dari kritik sastra dapat berperan, dan memberikan faedah yang bermakna pada sebuah karya sastra. Adapun peran kritik sastra sebagai berikut :
a.       Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban tehadap karya sastra tertentu.
b.       Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat dalam memberi pengarahan terhadap karya yang kompleks .
c.       Bertindak sebagai penghakim yang baik untuk membangkitkan kesadaran serta menghidupkan suara hati nurani, pembinaan akal budi, ketajaman pikiran, dan kehalusan cita rasa.

2.      Fungsi Kritik Sastra
Tanggung jawab yang dituntut dari seorang kritikus adalah bahwa      hasil dari kritik sastra tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Berikut fungsi dari kritik sastra :
a.       Kritik sastra yang disusun atas dasar keinginan untuk memperbaiki mutu karya sastra dan ilmu khalayak pembaca.
b.      Kritik sastra yang disusun atas dasar pendekatan dan metode kerja yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Kritik sastra yang dilahirkan oleh pengeritik yang mempunyai rasa tanggung jawab moral dan intelektual disebabkan mempunyai minat membaca menekuni sastra dan ilmu  sastra.


F.      Contoh Kritik Ekspresif



Gaun Biru Selen
Oleh: Zahratul Wahdati
            Selen si perancang gaun berjalan anggun menuju rumah Hira. Dengan sombong, ia memamerkan gaun yang dikenakannya kepada penduduk Negeri Marara. Gaun selutut itu berwarna biru terang. Sebuah mahkota bunga melingkar di kepala Selen.
“Hira, ayo berangkat!” teriak Selen sesampainya di rumah Hira. “Aku sudah tidak sabar bertemu, Yolli!”
Yolli adalah perancang pakaian ternama. Idola Selen.
Hira keluar dari rumah dan terkejut. “Selen, pakaianmu itu ....”
“Keren, kan? Pakaian ini khusus kubuat untuk menghadiri pesta ulang tahun Yolli. Aku tidak akan menjualnya. Jadi, jangan bermimpi untuk mendapatkannya, Hira!”
“Bukan itu maksudku, lebih baik kamu ganti pakaianmu. Aku akan menunggumu.”
Selen tertawa. “Aku tahu maksudmu. Pasti kamu takut kan, para wartawan yang menghadiri pesta itu akan menyangka aku adalah Yolli. Sebab, dengan pakaian ini aku terlihat cantik dan mengaggumkan.”
“Bukan itu ....”
Selen memotong ucapan Hira lagi. “Apa kamu iri karena pakaianku lebih bagus dibandingkan pakaianmu.” Selen mengamati gaun ungu tua yang dikenakan Hira. Sangat sederhana.
“Kita akan melewati hutan Derona. Seharusnya, kamu jangan memakai pakaian berwarna terang. Soalnya ....”
“Warna biru itu warna kesukaanku. Lagi pula, pakaian biru terang ini malah akan bersinar di hutan Derona.” potong Selen cepat. “Ayo berangkat!”
Rumah Yolli berada di balik hutan Derona. Selen dan Hira baru kali ini, melewati hutan itu. Hutan itu amat lebat. Pohon-pohonnya tinggi dan rapat. Semak belukar tumbuh subur. Aroma dedaunnya sungguh segar.
“Ah, sepatuku kotor! Tanahnya becek.” keluh Selen mendapati air merembes masuk ke dalam sepatu kainnya.
Hira tenang-tenang saja, soalnya ia memakai sepatu bot. Jadi, kakinya tidak basah. “Kemarin kan, Pak Jeto si pencari kayu sudah menyarankan kalau kita harus memakai sepatu bot.”
“Ke pesta menggunakan sepatu bot? Nanti bisa-bisa kita ditertawakan.” Tangan Selen sibuk menepuk nyamuk-nyamuk yang mengigitnya. Nyamuk-nyamuk itu banyak dan ganas. Sunggut penghisapnya bahkan menembus pakaian Selen. “Aduh! Nyamuknya banyak sekali!”
“Tadi, aku kan menyuruhmu mengganti pakaian. Tapi, kamu tidak mau. Nyamuk itu sangat suka hinggap di tempat berwarna biru dibandingkan dengan tempat berwarna lainnya.”
“Tidak mungkin aku menganti pakaian ini. Kan sudah aku bilang, aku membuat pakaian ini khusus untuk menghadiri pesta Yolli!” Selen sangat kesal. Bukan hanya karena nyamuk yang tak berhenti menghinggapinya. Tetapi, Selen merasa Hira sangat cerewet.
Hira akhirnya diam saja, karena tidak mau bertengkar dengan Selen.
“Nyamuk itu tidak suka bau harum kan?” Selen merogoh  saku celananya. Ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
“Berhenti, Selen! Jangan memakai parfum!” pekik Hira.
Selen tidak mendengarkan ucapan Hira. Ia malah menyemprotkan parfum berulang-kali ke tubuhnya. Udara menjadi sangat harum. Membuat Hira menutup hidungnya dengan tangan.
“Sudah, Selen! Nanti ....”
“Nanti nyamuknya mati, kasihan!” Selen tertawa sambil melangkah mendahului Hira.
Ngung ngung ngung .... Tiba-tiba, gerombolan lebah terbang menuju ke arah Selen. Mengejar Seon yang berusaha lari sekencangnya.
“A! Tolong aku, Hira! Aduh!” teriak Selen kencang. Beberapa lebah berhasil mengigit lengan, kaki, dan wajahnya.
 Hira berlari mengejar Selen. Ia mencoba membantu, tetapi ia tidak tahu cara mengusir para lebah. Mata Hira melebar, ketika telinganya mendengar suara arus air sungai yang deras. “Selen, cepat lompat ke air sungai!” teriak Hira.
Tanpa berpikir panjang, Selen melompat ke air sungai dan menyelam. Beberapa detik kemudian, kepalanya muncul ke permukaan. Ia bernapas lega, melihat lebah pergi menjauh.
“Lebah sangat menyukai bau wangi-wangian. Maafkan aku membuat gaunmu basah.” kata Hira sambil membantu Selen keluar dari air sungai.
“Aku yang harusnya minta maaf. Harusnya aku mau mendengarkan nasehatmu. Dan terima kasih karena sudah menolongku.”  Selen tersenyum. “Ayo kita pulang!”
“Tidak mau! Meskipun gaunmu basah, kamu harus tetap datang ke pesta Yolli. Kita sudah berjanji padanya.” Hira mencoba meyakinkan.
“Baiklah!”
            Beruntung Selen mendengarkan nasehat Hira untuk tetap datang ke pesta Yolli. Meskipun, di pesta itu para hadirin menatap aneh karena gaun Selen basah. Tetapi, Yolli sangat senang dengan kehadiran mereka. Bahkan, Yolli memberikan gaun rancangannya kepada Selen. Selen melompat-lompat kegirangan. Ia tidak percaya akan mendapatkan pakaian dari idolanya. Ini semua berkat Sahabatku, Hira. Batin Selen.(*)
Universitas PGRI Semarang, 30 November 2015
                  Dimuat di surat kabar solo post, minggu, 20 Desember 2015
















Kajian bedasarkan tinjauan psikologis kejiwaan penulis
Dilihat dari diksi (pilihan kata) penulis, menulis cerpen gaun biru selen mungkin si penulis tersebut pernah melihat gaun biru, sehingga penulis ingin memaparkan gaun biru dalam bentuk cerpen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak Kenal Maka Harus Kenalan Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika ...