TEORI
SASTRA
ANALISIS
DENGAN PENDEKATAN EKSPRESIF
KELOMPOK
13
NAMA NPM
1. Mega
Aulia 15410183
2. Intan
Maulia Marta 15410184
3. Syafiatul
Ufiyah 15410185
4. Elysa
Mayasari 15410186
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
PGRI SEMARANG
2015/2016
Analisis
dengan pendektan ekspresif
A.
Pengertiam Kritik Ekspresif
Kritik berasal dari kata κριτεσ-krites (Yunani)
yang artinya hakim. Kata ini berasal dari kata kerja κρίνειν-krinein
yang berarti menghakimi. Selanjutnya muncul kata kritikos yang artinya
hakim karya sastra.Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua
orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophanes dan Heraclitus mengecam
keras seorang pujangga besar bernama Homerus
yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi
Hal inilah yang mengawali pemikiran Plato tentang
"pertentangan purba antara puisi dan
filsafat. Pada tahun 405 SM Aristophanes secara lebih tebuka mengkritik Euripides
yang begitu menjunjung nilai seni tanpa memperhatikan nilai sosial. Aristoteles kemudian menulis buku mengenai kritik sastra yang mulai
menemukan bentuk yang berjudul Poetica.
Pada masa ini Plato memunculkan tiga poin penting mengenai baiknya suatu karya
sastra : memberikan ajaran moral yang
lebih tinggi; memberikan kenikmatan;
dan memberikan ketepatan dalam bentuk pengungkapannya.
Pendekatan Ekspresif Kritik ekspresif mendefinisikan karya
sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk
imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan;
kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau
kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran, dan sering kritik ini
mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan
pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan
dirinya dalam karyanya tersebut (Pradopo, 1997:193). Dan pendapat lain
menyatakan, pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi
perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Menurut Semi (1984),
pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada
upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
Pendekatan kritik ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan
atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika
melakukan proses penciptaan karya sastra.
Dari definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan
bahwa, Pendekatan
ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya
pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
B.
Ciri-ciri teori kritik ekspresif
Dalam melakukan Kritik Ekspresif bukanlah hal yang tanpa pedoman. Berikut
ciri-ciri teori kritik ekspresif ( Abrams) :
- Lebih
menitikberatkan pada pengaran.
- Melihat
sastra lebih dekat hubugannya dengan kajian biografis.
- Pengarang memiliki peranan penuh terhadap karya yang
dibuatnya.
- Sastra dinilai tidak pernah lepas
dari manifesto pengarang.
- Fokus utamanaya tidak berupa diri si
pengarang, melainkan juga ide, pikiran, perasaan, dan ciptaan dari pengarang.
- Memungkinkan dikoloborasikan dengan
teori yang lain, misalnya postkolonial.
C.
Langkah-langkah
Penerapan Pendekatan Ekspresif
Dalam
melakukan kritik sebuah karya sastra
diperlukan sebuah tahapan atau langkah-langkah
untuk melakukan sebuah proses kritik dalam karya sastra. Berikut
langkah-langkah yang dilakukan oleh kritikus dalam melakukan pengeritikan pada
sebuah karya sastra :
1. Seorang
kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
2. Melakukan
penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra,
seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya.
3. Mengaitkan
hasil penafsiran dengan bedasarkan tinjuan psikologis kejiwaan pengarang.
D.
Kriteria Kritik dalam Pendekatan
Ekspresif
Dalam
kriteria kritik sebuah karya sastra memiliki unsur-unsur sebagai pedoman dalam
mengeritik sebuah karya satra. Agar kritik yang disampaikan oleh kritikus pada
sebuah karya sastra dapat ditanggung jawabkan sesuai dengan teori. Berikut kriteria
kritik dalam pendekatan ekspresif :
1.
Kriterium Ekspresivitas
Sebuah
karya sastra yang baik bila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan
baik.
2.
Kriterium Intensi
Sebuah
karya sastra dikatakan baik bila intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan
baik atau selaras dengan norma-normanya.
E.
Peran
dan Fungsi Kritik Sastra
1.
Peran Kritik Sastra
Tanggung jawab yang
profesional, dalam arti hasil dari kritik sastra dapat berperan, dan memberikan
faedah yang bermakna pada sebuah karya sastra. Adapun peran kritik sastra
sebagai berikut :
a. Menjalankan disiplin pribadinya
sebagai jawaban tehadap karya sastra tertentu.
b. Bertindak sebagai pendidik yang berupaya
membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat dalam memberi pengarahan
terhadap karya yang kompleks .
c. Bertindak sebagai penghakim yang
baik untuk membangkitkan kesadaran serta menghidupkan suara hati nurani,
pembinaan akal budi, ketajaman pikiran, dan kehalusan cita rasa.
2.
Fungsi Kritik Sastra
Tanggung jawab yang dituntut dari
seorang kritikus adalah bahwa hasil
dari kritik sastra tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Berikut fungsi
dari kritik sastra :
a. Kritik sastra yang disusun atas
dasar keinginan untuk memperbaiki mutu karya sastra dan ilmu khalayak pembaca.
b. Kritik sastra yang disusun atas
dasar pendekatan dan metode kerja yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.
c. Kritik sastra yang dilahirkan oleh
pengeritik yang mempunyai rasa tanggung jawab moral dan intelektual disebabkan
mempunyai minat membaca menekuni sastra dan ilmu sastra.
F.
Contoh
Kritik Ekspresif
Gaun Biru
Selen
Oleh:
Zahratul Wahdati
Selen si perancang gaun berjalan anggun menuju rumah Hira. Dengan sombong, ia
memamerkan gaun yang dikenakannya kepada penduduk Negeri Marara. Gaun selutut
itu berwarna biru terang. Sebuah mahkota bunga melingkar di kepala Selen.
“Hira, ayo berangkat!” teriak Selen sesampainya di rumah
Hira. “Aku sudah tidak sabar bertemu, Yolli!”
Yolli adalah perancang pakaian ternama. Idola Selen.
Hira keluar dari rumah dan terkejut. “Selen, pakaianmu itu
....”
“Keren, kan? Pakaian ini khusus kubuat untuk menghadiri
pesta ulang tahun Yolli. Aku tidak akan menjualnya. Jadi, jangan bermimpi untuk
mendapatkannya, Hira!”
“Bukan itu maksudku, lebih baik kamu ganti pakaianmu. Aku
akan menunggumu.”
Selen tertawa. “Aku tahu maksudmu. Pasti kamu takut kan,
para wartawan yang menghadiri pesta itu akan menyangka aku adalah Yolli. Sebab,
dengan pakaian ini aku terlihat cantik dan mengaggumkan.”
“Bukan itu ....”
Selen memotong ucapan Hira lagi. “Apa kamu iri karena
pakaianku lebih bagus dibandingkan pakaianmu.” Selen mengamati gaun ungu tua yang
dikenakan Hira. Sangat sederhana.
“Kita akan melewati hutan Derona. Seharusnya, kamu jangan
memakai pakaian berwarna terang. Soalnya ....”
“Warna biru itu warna kesukaanku. Lagi pula, pakaian biru
terang ini malah akan bersinar di hutan Derona.” potong Selen cepat. “Ayo
berangkat!”
Rumah Yolli berada di balik hutan Derona. Selen dan Hira
baru kali ini, melewati hutan itu. Hutan itu amat lebat. Pohon-pohonnya tinggi
dan rapat. Semak belukar tumbuh subur. Aroma dedaunnya sungguh segar.
“Ah, sepatuku kotor! Tanahnya becek.” keluh Selen mendapati
air merembes masuk ke dalam sepatu kainnya.
Hira tenang-tenang saja, soalnya ia memakai sepatu bot.
Jadi, kakinya tidak basah. “Kemarin kan, Pak Jeto si pencari kayu sudah
menyarankan kalau kita harus memakai sepatu bot.”
“Ke pesta menggunakan sepatu bot? Nanti bisa-bisa kita
ditertawakan.” Tangan Selen sibuk menepuk nyamuk-nyamuk yang mengigitnya.
Nyamuk-nyamuk itu banyak dan ganas. Sunggut penghisapnya bahkan menembus
pakaian Selen. “Aduh! Nyamuknya banyak sekali!”
“Tadi, aku kan menyuruhmu mengganti pakaian. Tapi, kamu
tidak mau. Nyamuk itu sangat suka hinggap di tempat berwarna biru dibandingkan
dengan tempat berwarna lainnya.”
“Tidak mungkin aku menganti pakaian ini. Kan sudah aku
bilang, aku membuat pakaian ini khusus untuk menghadiri pesta Yolli!” Selen
sangat kesal. Bukan hanya karena nyamuk yang tak berhenti menghinggapinya.
Tetapi, Selen merasa Hira sangat cerewet.
Hira akhirnya diam saja, karena tidak mau bertengkar dengan
Selen.
“Nyamuk itu tidak suka bau harum kan?” Selen merogoh
saku celananya. Ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
“Berhenti, Selen! Jangan memakai parfum!” pekik Hira.
Selen tidak mendengarkan ucapan Hira. Ia malah menyemprotkan
parfum berulang-kali ke tubuhnya. Udara menjadi sangat harum. Membuat Hira
menutup hidungnya dengan tangan.
“Sudah, Selen! Nanti ....”
“Nanti nyamuknya mati, kasihan!” Selen tertawa sambil
melangkah mendahului Hira.
Ngung ngung ngung .... Tiba-tiba, gerombolan lebah terbang
menuju ke arah Selen. Mengejar Seon yang berusaha lari sekencangnya.
“A! Tolong aku, Hira! Aduh!” teriak Selen kencang. Beberapa
lebah berhasil mengigit lengan, kaki, dan wajahnya.
Hira berlari mengejar Selen. Ia mencoba membantu,
tetapi ia tidak tahu cara mengusir para lebah. Mata Hira melebar, ketika
telinganya mendengar suara arus air sungai yang deras. “Selen, cepat lompat ke
air sungai!” teriak Hira.
Tanpa berpikir panjang, Selen melompat ke air sungai dan
menyelam. Beberapa detik kemudian, kepalanya muncul ke permukaan. Ia bernapas
lega, melihat lebah pergi menjauh.
“Lebah sangat menyukai bau wangi-wangian. Maafkan aku
membuat gaunmu basah.” kata Hira sambil membantu Selen keluar dari air sungai.
“Aku yang harusnya minta maaf. Harusnya aku mau mendengarkan
nasehatmu. Dan terima kasih karena sudah menolongku.” Selen tersenyum.
“Ayo kita pulang!”
“Tidak mau! Meskipun gaunmu basah, kamu harus tetap datang
ke pesta Yolli. Kita sudah berjanji padanya.” Hira mencoba meyakinkan.
“Baiklah!”
Beruntung Selen mendengarkan nasehat Hira untuk tetap datang ke pesta Yolli.
Meskipun, di pesta itu para hadirin menatap aneh karena gaun Selen basah.
Tetapi, Yolli sangat senang dengan kehadiran mereka. Bahkan, Yolli memberikan
gaun rancangannya kepada Selen. Selen melompat-lompat kegirangan. Ia tidak percaya
akan mendapatkan pakaian dari idolanya. Ini semua berkat Sahabatku, Hira. Batin
Selen.(*)
Universitas PGRI Semarang, 30 November 2015
Dimuat
di surat kabar solo post, minggu, 20 Desember 2015
Kajian
bedasarkan tinjauan psikologis kejiwaan penulis
Dilihat dari diksi (pilihan kata)
penulis, menulis cerpen gaun biru selen mungkin si penulis tersebut pernah
melihat gaun biru, sehingga penulis ingin memaparkan gaun biru dalam bentuk
cerpen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar