Serangkaian Anggapan UN
Saya sependapat mengenai opini Menimbang (Ketiadaan) UN, yang ditulis oleh Setia Naka Andrian dan dimuat dalam surat kabar Wawasan,14 Desember 2016, mungkin kiranya apa yang telah disampaikan oleh Setia Naka Andrian mampu mewakili perasaan dari peserta UN.
Pengalaman dari pelaksanaan UN dari tahun ke tahun memang begitu menegangkan. Peserta UN lebih diarahkan pada mata pelajaran yang masuk dalam UN. Sehingga, peserta didik tidak jarang yang merasa terbebani bahkan merasa tertekan. Tekanan-tekanan ini diakibatkan bukan hanya pengarahan materi pembelajaran yang akan dihadapi saat UN, tetapi seperti halnya yang dituturkan oleh Naka " Semester akhir menjelang ujian, saya sangat kehilangan waktu bermain. Begitu pula kehilangan waktu untuk sekolah diniah (madrasah) yang biasa dijalankan pada siang hingga sore hari. Lalu malamnya pun, saya juga kehilangan waktu untuk mengaji kepada kiai di kampung halaman. Semua tersita untuk mempersiapkan ujian"."
Hal yang dialami oleh Naka serupa dengan apa yang saya dan peserta UN alami saat menjelang pelaksanaan UN. Namun, bila ditinjau dari nilai kerohanian, sebuah UN belum tentu akan berhasil apabila hanya berkutik pada jasmani, seperti halnya tambahan-tambahan materi pelajaran UN, tetapi juga perlu pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan keyakinan peserta UN. Tetapi pendekatan kepada Tuhan yang dilakukan secara terus-menerus atau istiqomah. Sehingga peserta UN dapat lebih tenang dalam menghadapi ujian-ujian maupun UN.
Dapat kita rasakan semestinya UN menjadi momok yang menakutkan, namun apabila pelaksanaan UN dapat diterapakan dengan sistem yang baik serta adanya persiapan yang matang dalam persiapan UN, dan UN tanpa harus membebani peserta UN.
Harusnya UN bukanlah hal yang digunakan sebagai ajang kelulusan utama, melainkan harusnya UN dijadikan sebagai evaluasi pembelajaran, yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan pembenahan materi pembelajaran.
Alangkah baiknya apabila syarat kelulusan utama ditentukan dari proses belajar peserta didik, seperti halnya penekanan dalam karakter peserta didik untuk bersikap jujur, tanggung jawab, terampil, dan memiliki intelektual yang baik. Allahu
Intan Maulia Marta (3D).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar