Minggu, 23 September 2018


Tak Kenal Maka Harus Kenalan

Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika diungkapkan pada zaman sekarang atau zaman now. Ungkapan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” sekarang berubah menjadi “Tak kenal maka harus kenalan”. Baiklah akan saya perkenalkan nama saya sebenarnya, sesuai dari kartu keluarga saya tercantumkan jika nama saya Intan Maulia Marta. Orang lain sering memanggil saya Intan. Selama ini yang saya ketahui sampai kapanpun bahwa saya memiliki orang tua yang bernama Bapak Matrukan dan Ibu Tuti Aningsing. Dalam kartu keluarga saya menyatakan bahwa saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Saya memiliki kakak perempuan yang bernama Suci Nur Amalia dan adik laki-laki yang bernama Bayu Cahaya Saputra.
Sedari kecil, kata Ibu saya hobi menyanyi, namun nyatanya menurut bapak saya suara saya tak serenyah jika didengarkan oleh telinga. Namun bagi saya hobi yang benar-benar mudah untuk dilakukan ialah menyanyi tanpa harus menyadari renyah atau tidaknya suara nyanyian jika didengarkan orang lain.
Keluarga saya merupakan keluarga asli keturunan Jawa. Sehingga, tidak heran jika saya bertempat tinggal di pulau Jawa tepatnya di Suwawal Rt 03 Rw 01 kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Kedua orang tua saya begitu baik dengan saya sehingga saya dapat di sekolahkan kedua orang tua saya. Perjalanan pendidikan saya sedikit berbeda dengan orang lain pada umumnya. Jika orang lain kebanyakan mengawali pendidikannya di Taman Kanak-kanak (TK), berbeda dengan saya yang mengawali pendidikan pada jenjang sekolah Sekolah Dasar (SD). Saya megawali pendidikan di tingkatan Sekolah Dasar dengan jarak tidak jauh dari rumah, tepatnya di SDN 6 Suwawal. Alhamdulillah, saya dapat mengakhiri Sekolah Dasar selama 6 Tahun. Dalam kurun waktu 6 tahun tersebut saya juga memperoleh pendidikan non-formal di Madin Al-Falah tentunya dengan jarak yang tidak jauh dari rumah saya.
Pendidikan yang saya peroleh di Madin Al-Falah berupa ilmu-ilmu agama Islam. Ilmu-ilmu tersebut berupa ilmu Tajuwid, Sorof, Nahwu, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, Hadits, dan ilmu agama Islam lainnya. Pendidikan formal dan non-formal saya jalankan dengan beriringan. Jika pagi hari saya memulai pendidikan formal dan siang hari usai pulang sekolah tepat pukul 14.00 WIB saya memulai pendidikan non-formal.
Pada tahun 2009 ketika saya sudah menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Dasar, saya melanjutkan pendidikan saya di MTs Mathalibul Huda Mlonggo. Banyak hal yang saya peroleh dari ilmu formal dan non-formal keduanya saling beriringan. Banyak yang bilang jika sedikit menyulitkan tetapi dengan bekal saya yang sudah memperoleh kedua ilmu formal dan non-formal dari SD dan Madin saya sedikit terbantu. Saat saya berada di jenjang pendidikan MTs saya benyak memperoleh sertifikat kejuaraan dari juara 2 Baca Puisi, juara 2 lomba bercerita kisah Nabi, dan yang paling membanggakan ketika di MTs saya tergabung di grup Marcing Band Malida dan saya pernah menjadi juara 1 parade macing band se-Jawa Tengah di Pati dengan posisi saya sebagai peniup terompet.

 
Pertengahan tahun 2012 saya melanjutkan pendidikan saya di SMKN 1 Jepara tentunya sederajat dengan tingkatan Sekolah Menengah Atas. Namanya juga Sekolah Menengah Kejuruan sehingga mau tidak mau saya harus memilih Jurusan yang saya minati. Namun saat itu saya masih minim pengalaman, tanpa dorongan siapapun akhirya saya memilih jurusan TPHP, bukan jurusan PHP. TPHP (Teknik Pengolahan Hasil pertanian), jika sekilas dipahami jurusan yang salah pilih ini sejalan dengan bidang Tata Boga, dimana siswa dituntut dan dibimbing untuk berlatih memasak. Namun jangan salah, yang membuat saya berkesan belajar di SMKN 1 Jepara bukan hanya masak memasak maupun mengincipi makanan yang saya buat, tetapi juga diajari menguji kadar mutu suatu komoditas pertanian, hasil masakan dan penelitian tentang makhluk hidup terkecil di alam (bakteri).
Penelitian tersebut dapat berupa pengujian kadar gula, protein, mineral, dan vitamin. Banyak hal yang saya pelajari dari mulai penanaman mikroba, bakteri baik pada makanan, pengolahan yang sesuai deng GMP (Good Manufacturing Practices), pengawetan makanan dengan pengawet alami, dan pengujian mutu makanan. Hingga pada tahun 2015 saya menuntaskan jenjang pendidikan saya di SMKN 1 jepara.
Berbekal bimbingan dan dorongan dari guru saya bernama Nur M. Kandir serta doa tidak lupa dukungan dari  kedua orang tua, saya melanjutkan pendidikan di Universitas PGRI Semarang pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Berbeda dengan awal masuk saya di SMK, awal masuk di Universitas PGRI Semarang saya memperoleh banyak pengarahan dari orang-orang sekitar saya, sehingga saya bisa memperoleh pengalaman sedikit demi sedikit dari pengalam orang lain yang saya peroleh. Waktu ke waktu telah berlalu, berlalu tanpa meinggalkan banyak krikil-krikil yang menghadang. Namun berkat doa kedua oran tua dan diijabah oleh Allah SWT serta bimbingan dan bantuan dari Bapak Ibu Dosen dan rekan-rekan saya dapat meleati krikil-krikil yang menghadang.
Semester 7 sudah menghampiri. Sehingga saya berjumpa di ruang kelas 2.09 tepatnya di gedung kampus 4 Univesitas PGRI Semrang dengan seorang penyair sekaligus dosen PBSI Universitas PGRI Semarang. Penyair sekigus dosen tersebut kelahiran dari daerah Kendal. Beliau yang tidak lain dan tidak bukan Bapak Setia Naka Andrean yang membimbing saya dalam mata kuliah Menulis Kreatif.

Selasa, 27 Desember 2016

Sastra Pemersatu Jiwa

Sastra Pemersatu Jiwa
            Peringatan Bulan Bahasa 2016 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang telah tiba. Sebagaimana peringatan yang selalu ditungu-tunggu yang sebenarnya bertepatan pula dengan peringatan Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Saat ini peringatan Bulan Bahasa sudah dibuka dengan begitu semarak. Pembukaan peringatan bulan bahasa di sebuah gedung kebanggan universitas PGRI Semarang yang begitu megah tidak lain gedung Balairung. Gedung bertepatan di tengah-tengah antara Gedung Pusat, Gedung B, dan Gedung Utama. Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa dilaksanakan tepatnya hari Rabu, 19 Oktober 2016, pukul 09.00 WIB.
            Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa yang berlangsung begitu meriah dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra !. Dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra ! tentulah tidak lepas dari sastrawan-sastrawan yang telah menorehkan sejuta kepiawaannya dalam bersastra. Launching Gebyar Bulan Bahasa di meriahkan grup musikalisasi puisi yaitu Biscuittime yang menyambut datangnya peserta acara launching Gebyar Bulan Bahasa. Selain itu disambung dengan pembacaan puisi oleh rektor UPGRIS, tidak lain ialah Bapak Muhdi., S.H., S.Hum.  dengan diiringi petikan-petikan senar nan syahdu dari tangan beliau. Tidak mau kalah rektor, wakil rektor pun juga ikut berpuisi yang diiringi dengan tembang jawa yang seketika menarik perhatian mata-mata peserta yang menghadiri acara launching Gebyar Bulan Bahasa.
            UPGRIS Bersastra !, semestinya tema tersebut mengandung sebuah makna yang kiranya dapat menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak, UPGRIS yang merupakan sebuah sebutan pendek yang berasal dari Universitas PGRI Semarang, dengan penambahan sebuah kata Bersastra. Peringatan Bulan Bahasa dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra, dengan tujuan FPBS mengajak semua elemen UPGRIS berpartisipasi dalam pelaksanaan bulan bahasa. Fakultar Pendidikan Bahasa dan Seni juga turut mengajak  semua elemen UPGRIS bahwasanya sastra bukanlah milik elemen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni saja. Melainkan milik kita bersama seluruh elemen UPGRIS dan milik seluruh masyarakat Indonesia.
            Sebagaimana yang telah di lontarkan oleh ibu suci selaku wakil rektor Universitas PGRI Semarang bahwasanya, “sastra bukanlah milik anggota FPBS melainkan milik kita semua , milik UPGRIS dan milik semua masyarakat Indonesia”. kalimat tersebut serontak mengenguatkan dan mempersatukan jiwa, seyogyanya ketika sebuah sastra yang dikembangkan oleh sastrawan atau pengarang tentulah selalu memiliki makna. Dengan makna tersebut tentulah serentak sebuah sastra yang begitu banyak macamnya dapat mempersatukan jiwa, tanpa harus memandang derajat seseorang, kedudukan seseorang, tua, dan muda seseorang.
            Sastra yang selalu erat kaitannya dengan sebuah seni. Sastra dan seni bukanlah dua kata yang memiliki makna yang sama melainkan memiliki kaitan yang erat dan diantara keduanya salaing berkesinambungan. Hal tersebut dapat kita cermati makna antara sastra dan seni menurut kamus besar bahasa Indonesia. Sastra, bahasa (kata-kata, gaya bahasa) dan seni, sebuah kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi.
            Sastra yang dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Tentulah menjadi sebuah sajian yang begitu menarik. Lontaran kalimat tersebut kiranya mengingatkan kita dengan untaian-untaian kata sumpah pemuda, yang mana dilontarkan bahwa
Kami Putra dan Putri Indonesaia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
            Dapat kita cermati pada bait terakhir, bahwasanya putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia. dengan begitu adanya persatuan bukan hanya dengan adanya kekuatan bersama dalam melawan penjajahan melainkan bahasa yang menjadi pemersatu masayarakat dalam Negara mauapun bangsa.
            Begitu pula apa yang sedang dialami oleh Indonesia yang terkenal dengan banyaknya pulau, baik pulau besar maupun kecil yang dihuni oleh suku-suku yang tersebar luas di seluruh kepulauan Indonesia. semakin banyaknya suku yang terdapat dalam sebuah Negara tentunya banyak pula keaneragaman kebudayaan dan bahasa yang digunakan. Sehingga parapemimpin Negara Indonesia memikirkan bahasa persatuan untuk menyatukan dan merangkul seluruh masyarakat Indonesi. Hingga pada akhirnya tercentuslah bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia.
            Sebagaimana yang telah kita ketahui, sebuah sastra yang tidak lain  dapat dimaknai sebagai bahasa yang kiranya dapat menyatukan semua kalangan tanpa harus memikirkan perbedaan derajat seseorang, perbedaan kedudukan seseorang, tua dan muda. Dengan adanya sebuah sastra yang dapat dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Seperti halnya bangsa Indonesia yang merupakan Negara kepulauan dengan banyak suku, dan keaneragaman kebudayaan maupun bahasa. Tentunya diharapkan dapat tercapai bangsa dan negara yang bersatu.
            Dengan adanya sastra yang dapat dijadikan pemesatu jiwa di semua kalanggan semoga dapat menambah rasa persatuan untuk menjaga keutuhan. Tentunya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan atau pengarang dapat dijadikan sebuah penyemanagat bagi generasi muda untuk berkarya.

Intan Maulia Marta,
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang,
 FPBS


Pemuda Sebagai Tombak Penerus Bangsa

Pemuda Sebagai Tombak Penerus Bangsa
Pemuda merupakan sosok seseorang yang memiliki kekuatan dalam hal untuk membangun sesuatu yang tentunya menjadi sebuah keinginannya. Pemuda memiliki jiwa pejuang berjuang dalam segi apapun yang dia rasa pantas untuk diperjuangkan pasti dia akan berjuang untuk hal itu. Selain itu pemuda memiliki jiwa yang sangat sensitif dan sangat gampang terpengaruh dalam hal  negative karena pemuda rasa ingin taunya sangat tinggi. Kita telah membicarakan tentang sebuah semangat dari seorang pemuda, tentunya kita tidak akan pernah lepas dari semangat juang pemuda Indonesia saat meraih sebuah kemenangan bangsa, hal tersebut tidak lain ialah sebuah kemerdekaan.
            Berbicara tentang pemuda dan kemerdekaan bangsa Indonesia tentulah kita terkenang  dengan sebuah untaian-untaian kata yang semestinya menjadikan bergetarnya seluruh raga kita, tak lain ialah ikrar Sumpah Pemuda
Kami Putra dan Putri Indonesaia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Dari paparan ikrar Sumpah Pemuda tentulah kita juga mengungat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno yang menyatakan ”Beri aku 10 pemuda akan aku goncangkan dunia”
            Apa yang telah diucapkan oleh Ir. Soekarno tentulah menjadi sebuah penanda bahwa pemudalah yang menjadi tombak bangsa dalam mewujudkan segala cita-cita mulia bangsa. Semangat pemuda inilah yang menjadi perwujudan Negara bisa menjadi seperti sekarang ini, pemuda sebagai penjujung tinggi pengapresiasi suatu budaya, sastra, serta peringatan hari-hari penting, semisal dengan adanya peringatan yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang.
            Peringatan Bulan Bahasa 2016 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang telah tiba. Sebagaimana peringatan yang selalu ditungu-tunggu yang sebenarnya bertepatan pula dengan peringatan Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Saat ini peringatan Bulan Bahasa sudah dibuka dengan begitu semarak. Pembukaan peringatan bulan bahasa di sebuah gedung kebanggan universitas PGRI Semarang yang begitu megah tidak lain gedung Balairung. Gedung bertepatan di tengah-tengah antara Gedung Pusat, Gedung B, dan Gedung Utama. Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa dilaksanakan tepatnya hari Rabu, 19 Oktober 2016, pukul 09.00 WIB.
            Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa yang berlangsung begitu meriah dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra !. Dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra ! tentulah tidak lepas dari sastrawan-sastrawan yang telah menorehkan sejuta kepiawaannya dalam bersastra. Launching Gebyar Bulan Bahasa di meriahkan grup musikalisasi puisi yaitu Biscuittime yang menyambut datangnya peserta acara launching Gebyar Bulan Bahasa. Selain itu disambung dengan pembacaan puisi oleh rektor UPGRIS, tidak lain ialah Bapak Muhdi., S.H., S.Hum.  dengan diiringi petikan-petikan senar nan syahdu dari tangan beliau. Tidak mau kalah rektor, wakil rektor pun juga ikut berpuisi yang diiringi dengan tembang jawa yang seketika menarik perhatian mata-mata peserta yang menghadiri acara launching Gebyar Bulan Bahasa.
            UPGRIS Bersastra !, semestinya tema tersebut mengandung sebuah makna yang kiranya dapat menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak, UPGRIS yang merupakan sebuah sebutan pendek yang berasal dari Universitas PGRI Semarang, dengan penambahan sebuah kata Bersastra. Peringatan Bulan Bahasa dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra, dengan tujuan FPBS mengajak semua elemen UPGRIS berpartisipasi dalam pelaksanaan bulan bahasa. Fakultar Pendidikan Bahasa dan Seni juga turut mengajak  semua elemen UPGRIS bahwasanya sastra bukanlah milik elemen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni saja. Melainkan milik kita bersama seluruh elemen UPGRIS dan milik seluruh masyarakat Indonesia.
            Selain adanya peringatan bulan bahasa adapula peringatan yang diselenggarakan oleh kelompok teater gema yang mana dilaksanakan pada hari jumaat tepatnya tanggal 28 Oktober 2016, dengan tujuan untuk memperingati hari sumpah pemuda. Acara berlangsung dengan semarak.
            Peringatan  sumpah pemuda yang dilakukan oleh elemen Universitas PGRI Semarang tentulah memiliki sebuah tujuan yang sangat mulia. Bukan hanya menjadi ajang penyemarak peringatan sumpah pemuda, namun peringatan sumpah pemuda yang dilaksanakan oleh elemen Universitas PGRI Semarang untuk memberikan pandangan yang berbeda bagi setiap pemuda, khususnya mahasiswa Universitas PGRI Semarang.
            Dengan adanya peringatan-peringatan untuk mengenang perjuangan pemuda dalam menggapai sebuah kemerdekaan, tentulah kita sebagai pemuda yang menjadi tombak penerus  bangsa tentulah kita harus menjadi pemuda yang tangguh dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa. Bukan hanya mempertahankan kemerdekaan saja, seyogyanya kita sebagai pemuda yang menjadi tombak penurus bangsa, kita harus dapat menjadi pemuda yang berprestasi dalam pendidikan, memiliki pengetahuan luas, ahlak  sopan santun terhadap orang lain sikap menghargai sesama.
Intan Maulia Marta,
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang,
 FPBS

Bukan Hiburan Semata

Bukan Hiburan Semata.
Pagelaran pementasan Jaka Tarub dan pementasan Monolog Balada Sumarah yang telah dilaksanakan di Gedung Pusat lantai 7 tepatnya di Universitas PGRI Semarang, membuat semua pancaran mata terpanah akan kepiawaian cara mengolah seni peran dalam drama tersebut. Pagelaran pementasan Jaka Tarub dan pementasan Monolog Balada Sumarah dilakukan dalam 2 sesion, (1) siang, 4 Oktober 2016 pukul 15.00 WIB. (2) malam, 4 Oktober 2016 pukul19.00 WIB. Pementasan drama Jaka Tarub yang disajikan dengan apik yang dilakukan oleh sekelompok UKM Teater Gema Universitas PGRI Semarang mengingatkan kita dengan cerita terdahulu yang kerap ditayangkan di TV bahkan yang lebih tradisional disajikan dalam bentuk petunjukan pewayangan (di Jawa). Pementasan drama dalam segala cerita tentunya memiliki sebuah nilai moral yang tentunya dapat diambil hikmahnya. Dengan adanya nilai moral suatu pementasan bukan hanya akan menjadi sebuah hiburan bagi seseorang maupun sekelompok orang tetapi menjadikan nilai moral yang terkandung dalam drama tersebut sebuah aspirasi untuk menata hidup menjadi lebih baik. Cerita Jaka Tarub sudah semakin lekat dalam ingatan masyarakat Indonesia. cerita Jaka tarub yang mengisahkan tentang sebuah percintaan antara seorang bidadari yang berasal dari kayangan dan seorang pemuda biasa yang berasal dari bumi ini tidak pernah sekalipun menjadi tontonan yang membosankan. Terbukti dengan adanya pementasan drama Jaka Tarub masih saja banyak penonton yang berkeinginan untuk menyaksikan pementasan drama Jaka Tarub. Hal tersebut membuktikan bahwasanya masih banyak peminat drama lama seperti itu.
            Dapat kita mengerti setiap pementasan drama tentunya ada sebuah amanat yang disampaikan oleh penyaji kepada orang yang disajikan drama tersebut. Dalam pementasan drama Jaka Tarub tentunya mempunyaaai sebuah ammanat yang tentunya dapat bermanfaatkan untuk penerima drama. Kita dapat menengok bahwasanya dalam cerita Jaka Tarub selain menceritakan tentang kisah percintaan terdapat juga kisah tentang sebuah kebohongan yang mana diibaratkan sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai tentu saja dapat tercium juga oleh orang lain. Hal tersebut dapat diterapkan dengan cerita Jaka  Tarub yang telah menyembunyikan selendang Nawang Wulan, sehingga Nawang Wulang tidak dapat kembali ke kayangan dan pada akhirnya bertemu dengan Jaka Tarub yang telah mengambil selendangnya dan dijadikan sebagai suami Nawang Wulan. Hingga pada akhinya Jaka Tarub menerima imbasnya akibat perbuatannya, terbongkarlah kebohongan Jaka Tarub, sehingga Jaka Tarub haruslah menerima untuk ditinggalkan Nawang Wulan untuk selama-lamanya. Nilai moral yang dapat dipetik dari kutipan cerita Jaka Tarub dapat diartikan seburuk apapun sepahit apapun sebuah kebenaran tentunya akan hilang dan musnah seketika dengan adanya sebuah kejujuran.
            Usai pementasan drama Jaka Tarub,disambung dengan pementasan Monolog Balada Sumarah. Balada Sumarah sebuah pementasan drama yang dapat diidentifikasi dari judulnya “Balada Sumarah” sebuah kisah drama yang menceritakan tentang riwayat hidup dari seorang Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di luar negeri tepatnya di Saudi Arabia. Ceita Balada Sumarah berawal dari adegan Sumarah yang sedang berada di meja hijau. Dalam pementasan drama Balada Sumarah, yang menjadi tokoh utama dalam  drama ini ialah Sumarah, anak dari seorang PKI yang dikenal di Indonesia sebagi sekelompok orang yang memerangi bangsa sendiri. Kita dapat menengok dari sisi isi cerita Balada Sumarah yang menceritakan tentang seorang gadis belia (Sumarah) yang mendapatkan tekanan batin dari banyak orang yang ada dikampungnya dan di negaranya sendiri. Banyak orang mengatakan bahwa ayahanda sumarah adalah seorang PKI. PKI tak lain sekelompok orang yang tega memerangi bangsa dan Negara sendiri. Padahal kenyataannya ayahanda sumarah sebagai penjual gula, dan gula tersebut didapatkannya dari orang-orang PKI. Akibat kecaman dari orang lain sumarah yang ingin berkumpul, bergabung, dan bekerja dengan masyarakat negeri sendiri tak dapat terpenuhi. Sumarah lantas putus asa sehingga sumarah pun bertekat untuk bekerja di negeri orang lain. Tak lain negeri yang ia tuju ialah Saudi Arabiah.
            Kecintaanya dengan negeri sendiripun telah hilang, keinginan Sumarah untuk menjadi warga negeri sendiripun hilang, dan kini hanya ada niatnya untuk mencari uang dan kebebasan tanpa adanya mulut-mulut yang menggoyakan hatinya untuk menjerit. Namun, segala impian dan keinginan sumarah seketika hilang, bagikan debu yang dihempas dengan angina putting beliung. Hal itu terjadi saat, sumarah bekerja selama satu tahun tanpa adanya upah. Belum lagi akibat majikannya yang begitu bengis dan serakah, sumarah harus rela dijadikan sebagai santpan yang empuk oleh majikannya untuk dijadikan sasaran pemuas nafsunya yang sesaat. Putuslah harapan sumarah, ia merasah lelah, marah, dan putus asa dengan segala problema hidupnya. Saat itulah sumarah kehilangan akal sehatnya, hal itulah   yang membuatnya menjadi pemberontak dan menuntut balas kepada majikannya, hingga berakhirlah kehidupan majikan sumarah di tangan sumarah.
            Dari cuplikan cerita tersebut dapat ditengok dari setiap pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh sumarah yang tak lain sebagai pemeran utama bahwasanya memiliki nilai moral yang tentunya dapat dijadikan sebuah aspirasi untuk menata hidup. Nilai moral yang terkadung ialah tiada baik bila hnya memandang seseorang dari sisi buruk dan sisi depan , pandang seseorang dari sisi baik dan dalamnya karena semakin kita memandang hanya keburukan seseorang akan hanya ada kesenjangan dalam bangsa kita. Sebab itulah kita adalah Negara Pancasila bukan Negara Liberalisme ataupun Komunisme.
           





























Jumat, 16 Desember 2016

Serangkaian Anggapan UN

Saya sependapat mengenai opini Menimbang (Ketiadaan) UN, yang ditulis oleh Setia Naka Andrian dan dimuat dalam surat kabar Wawasan,14 Desember 2016, mungkin kiranya apa yang telah disampaikan oleh Setia Naka Andrian mampu mewakili perasaan dari peserta UN.
Pengalaman dari pelaksanaan UN dari tahun ke tahun memang begitu menegangkan. Peserta UN lebih diarahkan pada mata pelajaran yang masuk dalam UN. Sehingga, peserta didik tidak jarang yang merasa terbebani bahkan merasa tertekan. Tekanan-tekanan ini diakibatkan bukan hanya pengarahan materi pembelajaran yang akan dihadapi saat UN, tetapi seperti halnya yang dituturkan oleh Naka " Semester akhir menjelang ujian, saya sangat kehilangan waktu bermain. Begitu pula kehilangan waktu untuk sekolah diniah (madrasah) yang biasa dijalankan pada siang hingga sore hari. Lalu malamnya pun, saya juga kehilangan waktu untuk mengaji kepada kiai di kampung halaman. Semua tersita untuk mempersiapkan ujian"."
Hal yang dialami oleh Naka serupa dengan apa yang saya dan peserta UN alami saat menjelang pelaksanaan UN. Namun, bila ditinjau dari nilai kerohanian, sebuah UN belum tentu akan berhasil apabila hanya berkutik pada jasmani, seperti halnya tambahan-tambahan materi pelajaran UN, tetapi juga perlu pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan keyakinan peserta UN. Tetapi pendekatan kepada Tuhan yang dilakukan secara terus-menerus atau istiqomah. Sehingga peserta UN dapat lebih tenang dalam menghadapi ujian-ujian maupun UN.
Dapat kita rasakan semestinya UN menjadi momok yang menakutkan, namun apabila pelaksanaan UN dapat diterapakan dengan sistem yang baik serta adanya persiapan yang matang dalam persiapan UN, dan UN tanpa harus membebani peserta UN.
Harusnya UN bukanlah hal yang digunakan sebagai ajang kelulusan utama, melainkan harusnya UN dijadikan sebagai evaluasi pembelajaran, yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan pembenahan materi pembelajaran.
Alangkah baiknya apabila syarat kelulusan utama ditentukan dari proses belajar peserta didik, seperti halnya penekanan dalam karakter peserta didik untuk bersikap jujur, tanggung jawab, terampil, dan memiliki intelektual yang baik. Allahu
Intan Maulia Marta (3D).

Rabu, 10 Februari 2016

Makalah Pendekatan Ekspresif



TEORI SASTRA
ANALISIS DENGAN PENDEKATAN EKSPRESIF


KELOMPOK 13
NAMA                                                                             NPM
1.      Mega Aulia                                                                             15410183
2.      Intan Maulia Marta                                                                 15410184
3.      Syafiatul Ufiyah                                                                     15410185
4.      Elysa Mayasari                                                                       15410186

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2015/2016

Analisis dengan pendektan ekspresif
A.    Pengertiam Kritik Ekspresif
Kritik berasal dari kata κριτεσ-krites (Yunani) yang artinya hakim. Kata ini berasal dari kata kerja κρίνειν-krinein yang berarti menghakimi. Selanjutnya muncul kata kritikos yang artinya hakim karya sastra.Kegiatan kritik sastra pertama kali di dunia dilakukan dua orang Yunani, yaitu Xenophanes dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophanes dan Heraclitus mengecam keras seorang pujangga besar bernama Homerus yang sering bercerita tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa-dewi Hal inilah yang mengawali pemikiran Plato tentang "pertentangan purba antara puisi dan filsafat. Pada tahun 405 SM Aristophanes secara lebih tebuka mengkritik Euripides yang begitu menjunjung nilai seni tanpa memperhatikan nilai sosial. Aristoteles kemudian menulis buku mengenai kritik sastra yang mulai menemukan bentuk yang berjudul Poetica. Pada masa ini Plato memunculkan tiga poin penting mengenai baiknya suatu karya sastra : memberikan ajaran moral yang lebih tinggi; memberikan kenikmatan; dan memberikan ketepatan dalam bentuk pengungkapannya.
Pendekatan Ekspresif Kritik ekspresif mendefinisikan karya sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan; kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran, dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut (Pradopo, 1997:193). Dan pendapat lain menyatakan, pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Menurut Semi (1984), pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra. Pendekatan kritik ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra.
Dari definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa, Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
B.     Ciri-ciri teori kritik ekspresif
Dalam melakukan Kritik Ekspresif  bukanlah hal yang tanpa pedoman. Berikut ciri-ciri teori kritik ekspresif ( Abrams) :
   -  Lebih menitikberatkan pada pengaran.
   -  Melihat sastra lebih dekat hubugannya dengan kajian biografis.
   - Pengarang memiliki peranan penuh terhadap karya yang dibuatnya.
    - Sastra dinilai tidak pernah lepas dari manifesto pengarang.
    - Fokus utamanaya tidak berupa diri si pengarang, melainkan juga ide, pikiran, perasaan, dan ciptaan dari pengarang.
    - Memungkinkan dikoloborasikan dengan teori yang lain, misalnya postkolonial.

C.     Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Ekspresif
Dalam melakukan kritik  sebuah karya sastra diperlukan sebuah tahapan  atau langkah-langkah untuk melakukan sebuah proses kritik dalam karya sastra. Berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh kritikus dalam melakukan pengeritikan pada sebuah karya sastra :
1.      Seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
2.      Melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya.
3.      Mengaitkan hasil penafsiran dengan bedasarkan tinjuan psikologis kejiwaan pengarang.

D.    Kriteria Kritik dalam Pendekatan Ekspresif

Dalam kriteria kritik sebuah karya sastra memiliki unsur-unsur sebagai pedoman dalam mengeritik sebuah karya satra. Agar kritik yang disampaikan oleh kritikus pada sebuah karya sastra dapat ditanggung jawabkan sesuai dengan teori. Berikut kriteria kritik dalam pendekatan ekspresif :

1.      Kriterium Ekspresivitas
Sebuah karya sastra yang baik bila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan baik.
2.      Kriterium Intensi
Sebuah karya sastra dikatakan baik bila intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan baik atau selaras dengan norma-normanya.

E.     Peran dan Fungsi Kritik Sastra

1.      Peran Kritik Sastra
 Tanggung jawab yang profesional, dalam arti hasil dari kritik sastra dapat berperan, dan memberikan faedah yang bermakna pada sebuah karya sastra. Adapun peran kritik sastra sebagai berikut :
a.       Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban tehadap karya sastra tertentu.
b.       Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat dalam memberi pengarahan terhadap karya yang kompleks .
c.       Bertindak sebagai penghakim yang baik untuk membangkitkan kesadaran serta menghidupkan suara hati nurani, pembinaan akal budi, ketajaman pikiran, dan kehalusan cita rasa.

2.      Fungsi Kritik Sastra
Tanggung jawab yang dituntut dari seorang kritikus adalah bahwa      hasil dari kritik sastra tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Berikut fungsi dari kritik sastra :
a.       Kritik sastra yang disusun atas dasar keinginan untuk memperbaiki mutu karya sastra dan ilmu khalayak pembaca.
b.      Kritik sastra yang disusun atas dasar pendekatan dan metode kerja yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Kritik sastra yang dilahirkan oleh pengeritik yang mempunyai rasa tanggung jawab moral dan intelektual disebabkan mempunyai minat membaca menekuni sastra dan ilmu  sastra.


F.      Contoh Kritik Ekspresif



Gaun Biru Selen
Oleh: Zahratul Wahdati
            Selen si perancang gaun berjalan anggun menuju rumah Hira. Dengan sombong, ia memamerkan gaun yang dikenakannya kepada penduduk Negeri Marara. Gaun selutut itu berwarna biru terang. Sebuah mahkota bunga melingkar di kepala Selen.
“Hira, ayo berangkat!” teriak Selen sesampainya di rumah Hira. “Aku sudah tidak sabar bertemu, Yolli!”
Yolli adalah perancang pakaian ternama. Idola Selen.
Hira keluar dari rumah dan terkejut. “Selen, pakaianmu itu ....”
“Keren, kan? Pakaian ini khusus kubuat untuk menghadiri pesta ulang tahun Yolli. Aku tidak akan menjualnya. Jadi, jangan bermimpi untuk mendapatkannya, Hira!”
“Bukan itu maksudku, lebih baik kamu ganti pakaianmu. Aku akan menunggumu.”
Selen tertawa. “Aku tahu maksudmu. Pasti kamu takut kan, para wartawan yang menghadiri pesta itu akan menyangka aku adalah Yolli. Sebab, dengan pakaian ini aku terlihat cantik dan mengaggumkan.”
“Bukan itu ....”
Selen memotong ucapan Hira lagi. “Apa kamu iri karena pakaianku lebih bagus dibandingkan pakaianmu.” Selen mengamati gaun ungu tua yang dikenakan Hira. Sangat sederhana.
“Kita akan melewati hutan Derona. Seharusnya, kamu jangan memakai pakaian berwarna terang. Soalnya ....”
“Warna biru itu warna kesukaanku. Lagi pula, pakaian biru terang ini malah akan bersinar di hutan Derona.” potong Selen cepat. “Ayo berangkat!”
Rumah Yolli berada di balik hutan Derona. Selen dan Hira baru kali ini, melewati hutan itu. Hutan itu amat lebat. Pohon-pohonnya tinggi dan rapat. Semak belukar tumbuh subur. Aroma dedaunnya sungguh segar.
“Ah, sepatuku kotor! Tanahnya becek.” keluh Selen mendapati air merembes masuk ke dalam sepatu kainnya.
Hira tenang-tenang saja, soalnya ia memakai sepatu bot. Jadi, kakinya tidak basah. “Kemarin kan, Pak Jeto si pencari kayu sudah menyarankan kalau kita harus memakai sepatu bot.”
“Ke pesta menggunakan sepatu bot? Nanti bisa-bisa kita ditertawakan.” Tangan Selen sibuk menepuk nyamuk-nyamuk yang mengigitnya. Nyamuk-nyamuk itu banyak dan ganas. Sunggut penghisapnya bahkan menembus pakaian Selen. “Aduh! Nyamuknya banyak sekali!”
“Tadi, aku kan menyuruhmu mengganti pakaian. Tapi, kamu tidak mau. Nyamuk itu sangat suka hinggap di tempat berwarna biru dibandingkan dengan tempat berwarna lainnya.”
“Tidak mungkin aku menganti pakaian ini. Kan sudah aku bilang, aku membuat pakaian ini khusus untuk menghadiri pesta Yolli!” Selen sangat kesal. Bukan hanya karena nyamuk yang tak berhenti menghinggapinya. Tetapi, Selen merasa Hira sangat cerewet.
Hira akhirnya diam saja, karena tidak mau bertengkar dengan Selen.
“Nyamuk itu tidak suka bau harum kan?” Selen merogoh  saku celananya. Ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
“Berhenti, Selen! Jangan memakai parfum!” pekik Hira.
Selen tidak mendengarkan ucapan Hira. Ia malah menyemprotkan parfum berulang-kali ke tubuhnya. Udara menjadi sangat harum. Membuat Hira menutup hidungnya dengan tangan.
“Sudah, Selen! Nanti ....”
“Nanti nyamuknya mati, kasihan!” Selen tertawa sambil melangkah mendahului Hira.
Ngung ngung ngung .... Tiba-tiba, gerombolan lebah terbang menuju ke arah Selen. Mengejar Seon yang berusaha lari sekencangnya.
“A! Tolong aku, Hira! Aduh!” teriak Selen kencang. Beberapa lebah berhasil mengigit lengan, kaki, dan wajahnya.
 Hira berlari mengejar Selen. Ia mencoba membantu, tetapi ia tidak tahu cara mengusir para lebah. Mata Hira melebar, ketika telinganya mendengar suara arus air sungai yang deras. “Selen, cepat lompat ke air sungai!” teriak Hira.
Tanpa berpikir panjang, Selen melompat ke air sungai dan menyelam. Beberapa detik kemudian, kepalanya muncul ke permukaan. Ia bernapas lega, melihat lebah pergi menjauh.
“Lebah sangat menyukai bau wangi-wangian. Maafkan aku membuat gaunmu basah.” kata Hira sambil membantu Selen keluar dari air sungai.
“Aku yang harusnya minta maaf. Harusnya aku mau mendengarkan nasehatmu. Dan terima kasih karena sudah menolongku.”  Selen tersenyum. “Ayo kita pulang!”
“Tidak mau! Meskipun gaunmu basah, kamu harus tetap datang ke pesta Yolli. Kita sudah berjanji padanya.” Hira mencoba meyakinkan.
“Baiklah!”
            Beruntung Selen mendengarkan nasehat Hira untuk tetap datang ke pesta Yolli. Meskipun, di pesta itu para hadirin menatap aneh karena gaun Selen basah. Tetapi, Yolli sangat senang dengan kehadiran mereka. Bahkan, Yolli memberikan gaun rancangannya kepada Selen. Selen melompat-lompat kegirangan. Ia tidak percaya akan mendapatkan pakaian dari idolanya. Ini semua berkat Sahabatku, Hira. Batin Selen.(*)
Universitas PGRI Semarang, 30 November 2015
                  Dimuat di surat kabar solo post, minggu, 20 Desember 2015
















Kajian bedasarkan tinjauan psikologis kejiwaan penulis
Dilihat dari diksi (pilihan kata) penulis, menulis cerpen gaun biru selen mungkin si penulis tersebut pernah melihat gaun biru, sehingga penulis ingin memaparkan gaun biru dalam bentuk cerpen.


Tak Kenal Maka Harus Kenalan Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika ...