Selasa, 27 Desember 2016

Bukan Hiburan Semata

Bukan Hiburan Semata.
Pagelaran pementasan Jaka Tarub dan pementasan Monolog Balada Sumarah yang telah dilaksanakan di Gedung Pusat lantai 7 tepatnya di Universitas PGRI Semarang, membuat semua pancaran mata terpanah akan kepiawaian cara mengolah seni peran dalam drama tersebut. Pagelaran pementasan Jaka Tarub dan pementasan Monolog Balada Sumarah dilakukan dalam 2 sesion, (1) siang, 4 Oktober 2016 pukul 15.00 WIB. (2) malam, 4 Oktober 2016 pukul19.00 WIB. Pementasan drama Jaka Tarub yang disajikan dengan apik yang dilakukan oleh sekelompok UKM Teater Gema Universitas PGRI Semarang mengingatkan kita dengan cerita terdahulu yang kerap ditayangkan di TV bahkan yang lebih tradisional disajikan dalam bentuk petunjukan pewayangan (di Jawa). Pementasan drama dalam segala cerita tentunya memiliki sebuah nilai moral yang tentunya dapat diambil hikmahnya. Dengan adanya nilai moral suatu pementasan bukan hanya akan menjadi sebuah hiburan bagi seseorang maupun sekelompok orang tetapi menjadikan nilai moral yang terkandung dalam drama tersebut sebuah aspirasi untuk menata hidup menjadi lebih baik. Cerita Jaka Tarub sudah semakin lekat dalam ingatan masyarakat Indonesia. cerita Jaka tarub yang mengisahkan tentang sebuah percintaan antara seorang bidadari yang berasal dari kayangan dan seorang pemuda biasa yang berasal dari bumi ini tidak pernah sekalipun menjadi tontonan yang membosankan. Terbukti dengan adanya pementasan drama Jaka Tarub masih saja banyak penonton yang berkeinginan untuk menyaksikan pementasan drama Jaka Tarub. Hal tersebut membuktikan bahwasanya masih banyak peminat drama lama seperti itu.
            Dapat kita mengerti setiap pementasan drama tentunya ada sebuah amanat yang disampaikan oleh penyaji kepada orang yang disajikan drama tersebut. Dalam pementasan drama Jaka Tarub tentunya mempunyaaai sebuah ammanat yang tentunya dapat bermanfaatkan untuk penerima drama. Kita dapat menengok bahwasanya dalam cerita Jaka Tarub selain menceritakan tentang kisah percintaan terdapat juga kisah tentang sebuah kebohongan yang mana diibaratkan sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai tentu saja dapat tercium juga oleh orang lain. Hal tersebut dapat diterapkan dengan cerita Jaka  Tarub yang telah menyembunyikan selendang Nawang Wulan, sehingga Nawang Wulang tidak dapat kembali ke kayangan dan pada akhirnya bertemu dengan Jaka Tarub yang telah mengambil selendangnya dan dijadikan sebagai suami Nawang Wulan. Hingga pada akhinya Jaka Tarub menerima imbasnya akibat perbuatannya, terbongkarlah kebohongan Jaka Tarub, sehingga Jaka Tarub haruslah menerima untuk ditinggalkan Nawang Wulan untuk selama-lamanya. Nilai moral yang dapat dipetik dari kutipan cerita Jaka Tarub dapat diartikan seburuk apapun sepahit apapun sebuah kebenaran tentunya akan hilang dan musnah seketika dengan adanya sebuah kejujuran.
            Usai pementasan drama Jaka Tarub,disambung dengan pementasan Monolog Balada Sumarah. Balada Sumarah sebuah pementasan drama yang dapat diidentifikasi dari judulnya “Balada Sumarah” sebuah kisah drama yang menceritakan tentang riwayat hidup dari seorang Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di luar negeri tepatnya di Saudi Arabia. Ceita Balada Sumarah berawal dari adegan Sumarah yang sedang berada di meja hijau. Dalam pementasan drama Balada Sumarah, yang menjadi tokoh utama dalam  drama ini ialah Sumarah, anak dari seorang PKI yang dikenal di Indonesia sebagi sekelompok orang yang memerangi bangsa sendiri. Kita dapat menengok dari sisi isi cerita Balada Sumarah yang menceritakan tentang seorang gadis belia (Sumarah) yang mendapatkan tekanan batin dari banyak orang yang ada dikampungnya dan di negaranya sendiri. Banyak orang mengatakan bahwa ayahanda sumarah adalah seorang PKI. PKI tak lain sekelompok orang yang tega memerangi bangsa dan Negara sendiri. Padahal kenyataannya ayahanda sumarah sebagai penjual gula, dan gula tersebut didapatkannya dari orang-orang PKI. Akibat kecaman dari orang lain sumarah yang ingin berkumpul, bergabung, dan bekerja dengan masyarakat negeri sendiri tak dapat terpenuhi. Sumarah lantas putus asa sehingga sumarah pun bertekat untuk bekerja di negeri orang lain. Tak lain negeri yang ia tuju ialah Saudi Arabiah.
            Kecintaanya dengan negeri sendiripun telah hilang, keinginan Sumarah untuk menjadi warga negeri sendiripun hilang, dan kini hanya ada niatnya untuk mencari uang dan kebebasan tanpa adanya mulut-mulut yang menggoyakan hatinya untuk menjerit. Namun, segala impian dan keinginan sumarah seketika hilang, bagikan debu yang dihempas dengan angina putting beliung. Hal itu terjadi saat, sumarah bekerja selama satu tahun tanpa adanya upah. Belum lagi akibat majikannya yang begitu bengis dan serakah, sumarah harus rela dijadikan sebagai santpan yang empuk oleh majikannya untuk dijadikan sasaran pemuas nafsunya yang sesaat. Putuslah harapan sumarah, ia merasah lelah, marah, dan putus asa dengan segala problema hidupnya. Saat itulah sumarah kehilangan akal sehatnya, hal itulah   yang membuatnya menjadi pemberontak dan menuntut balas kepada majikannya, hingga berakhirlah kehidupan majikan sumarah di tangan sumarah.
            Dari cuplikan cerita tersebut dapat ditengok dari setiap pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh sumarah yang tak lain sebagai pemeran utama bahwasanya memiliki nilai moral yang tentunya dapat dijadikan sebuah aspirasi untuk menata hidup. Nilai moral yang terkadung ialah tiada baik bila hnya memandang seseorang dari sisi buruk dan sisi depan , pandang seseorang dari sisi baik dan dalamnya karena semakin kita memandang hanya keburukan seseorang akan hanya ada kesenjangan dalam bangsa kita. Sebab itulah kita adalah Negara Pancasila bukan Negara Liberalisme ataupun Komunisme.
           





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak Kenal Maka Harus Kenalan Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika ...