Catatan Pertujukan Wayang Kampung Sebelah
“Mawas
Diri Menekar Berani”
Disusun oleh : Ki Jitheng Suparman
Di suatu
desa yang bernama desa Bangunjiwo sedang diadakan pemilihan pilkades. Suatu ketika
Eyang Sidik Wacono memimpin penghitungan suara pilkades. Mendadak papan tulis
untuk mencatat perhitungan suara menghilang. Parjo selaku ketua keamanan
ditanya tidak tahu. Begitu pun sodrum ketika ditanya malah salah presepsi
merasa dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Tetapi papan tulis itu ternyata disimpan kembali
oleh Suto Coro sebagai kepala rumah
tangga kelurahan. Ia tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu
karena panitia menggunakan peralatan kantor kelurahan tanpa seizin dia. Terjadi
perdebatan sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir dengan
kesanggupan Suto Coro meminjamkan papan tulis. Parjo memberikan hasil
perhitungan suara yang sudah dilakukan saat Eyang Sidik Wacono sibuk berurusan
dengan papan tulis. Eyang Sidik lantas membacakan hasil perhitungan suara yang
menempatkan Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta mentandatangani
berita acara penetapan pemenang, sambil secara tersamar Mbah Sidik meminta bonus upaya pemenangan kepada Somad. Parjo mempertanyakan
posisi Mbah Sidik yang sebagai panitia ternyata diam-diam berafiliasi kepada
salah satu kontestan. Jika ketahuan orang maka menuai masalah. Eyang Sidik
niscaya menuai masalah dengan resiko
itu, siapa pun yang memprotes tindakannya akan dilabraknya.
Pak Klungsur,
salah satu kontestan kades yang kalah, mengumpulkan tim sukses : Mbah Modin
slaku ketua tim sukses, Bu Rt selaku bendahara, Parjo selaku serketaris, Jhony
selaku penggerak massa, serta sejumlah massa. Pada pertemuan itu pak klungsur tak
henti jatuh pingsan karena tak kuat menahan tekan batin atas kekalahannya.
Betapa banyak biaya yang sudah ia keluarkan mengikuti pilkades. Ia ingin hasil
pilkades yang memenangkan somad digagalkan. Tim suksesnya diminta memprovokasi
massa dengan isu bahwa kemenangan somad tidak sah karena penuh kecurangan.
Pemenang pilkades itu telah berkerja sama dengan perangkat desa, melanggar asas
netralitas aparat pemerintahan desa, mencederai asas keadilan. Somad juga
melakukan black campaign atas dirinya. Selain itu tindakan money pilitik.
Sebenarnya Pak Klungsur melakukan hal yang sama, tetapi kalah kuat. Justru hal
itu yang membuatnya sangat kecewa dan marah. Maka tim suksesnya diminta
menggerakan massa untuk memprotes kemenangan Somad, bila perlu bikin kekacauan
agar hasil pilkades itu batal akibat tekanan kerusuhan massa. Mboh Modin siap
mendesin gerakan massa yang diinginkan Pak Klungsur, dengan catatan biaya
tercukupi. Pak Klungsur siap bertaruhan terakhir dengan seluruh hartanya akan
membiaya gerakan massa tersebut. Mbah Modin lantas mengajak anggota timnya
untuk menyelenggarakan rapat khusus menyusun strategi. Keesokan harinya Kampret
bertandang ke rumah karyo mengajak mengobrol tentang sukses pilkades dengan
pemenang Pak Somad. Karyo menanggapi dingin. Gegap gempit nya pesta demokrasi
pilkades dia yakini tak mengubah apa-apa. Demokrasi di desa bangunjiwo adalah
wajah demokrasi negara ini. Hasilnya karyo tetap saja melarat.” Pendidikan dan
kesehatan tetap saja mahal. Karupsi semakin merajalela. Yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin. Hutang negara malah bukan berkurang malah makin
membengkak. Negra ini kaya raya, kekayaan itu mestinyaberlebih kalau sekedar
kalo untuk menyejahterakan rakyat. Ironisnya segala bentuk bantuan atau subsidi
untuk orang miskin bukan berasal dari kekayaan negara melainkan dana hutang
atau pinjaman dari luar negeri. sebentar lagi BBM mau naik, tentu harga semua
barang tidak akan diam saja,pasti ikut meroket. Subsidi langsung untuk
masyarakat miskin tak akan mengejar melangitnya biaya hidup. Artinya perhatian
untuk rakyat miskin tak lebih bermakna
hiburan sesaat bagi rakyat yang sekarat. Semua partai berteriak bersih dan pro
rakyat. Tidak terbukti sudah, nyaris tak satupun partai yang tdak tercium
bau busuknya. “ Ujar Karyo . “Rakyat
bawah di negeri ini memegang menghadapi jalan buntu. Tetapi tak usah berkecil
hati, Lik. Masih ada lobang pamungkas. Utuk jeda dari kepenatan beban
pikir”ucap Kampret selayaknya menenangkan hati Karyo. Kemudian kampret mengajak karyo menyaksikan panggung
hiburan dalam rangka tasyakuran kemenangan Somad sebagai lurah baru Deso
Bangunjiwo.
Sederatan artis
berkiprah diatas panggung mnghibur penonton yang memadati acara tasyakuran
lurah Somad. Tiba-tiba jhony naik keatas panggung. Ia berorasi mengecam dan
memprotes kemenangan lurah somad yang dianggap penuh kecurangan, “ Apa jadiya
desa ini jika dipimpin oleh orang yang sejak berangkat meraih jabatan telah
menghalalkan kecurangan. Kelak saat mempimpin pun niscaya akan melakukan hal
buruk untuk kepentingannya sendiri”. Jhonny mempengaruhi massa agar bergerak
menengakkan kebenaran dan keadilan dengan menggalkan hasil pilkades yang
dimenangkan pak Somad.
Kampret yang mambuk terasak terusik kesenangannya
karena ulah jhony . Ia segera naik keatas panggung memina jhony untuk berhenti
mengoceh, agar dangdut dapat dilanjutkan. Jhony akhinya marah menuding kampret
sebagai pendukung Somad namun kampret hanya tersenyum dengan keadaan mabuk .
sang pemabuk tersebut menanggapi bahwa ia hanya seorang pencinta dangdut yang netral
akan anggota partai , jangankan mendukung calon bahkan ia tidak memilik calon
kepala desa. Akhirnya jhony malah dituduh kampret karena ia sangat berantusian
untuk massa mendukung salah satu calon kades karena telah di bayar. Terjadilah adu mulut oleh kampret dan jhony
yang berujung bahwa partai hanya mementingkan kelompoknya bahkan jarang mereka
memperhatikan rakyat termasuk rakyat miskin, dan pada akhirnya jhony merasa
terpojokkan sehingga memicu tawuran
massa.
Karyo
mendatangi pak Gendut seorang anggota polisi, Mbah Modin, Pak Somad, dan Parjo.
Masyarakat yang berada di tengah lokasi menjadi kerusuhan dan ketika Karyo
memisahkan kerusuhan antar anggota tersebut.
Dari situlah muncul bahwa tidak semudah itu menghentikan sebuah
kerusuhan perlu adanya cara tegas dan keras.” Memang cukup untuk memisahkan
dengan berpidato tapi kalau menggunakan dengan cara kekerasan maka akan
dikenakan pasal tentang HAM. Polisi
bergerak salah bahkan tidak bergerak juga salah.” Ujar pak polisi. Karyo bingung. Ia mendesak Pak Somad sebagai
lurah harus bisa mengendalikan situasi. Namun bukan nya situasi tidak kunjung
selasai malah tambah rumit, karena pak lurah terlalu berbelit belit untuk
menyelesaikan masalah dari mengetahui masalah, berkoordinasi dan barulah untuk
mengambiil tindakan.
“Wah rakyate modar nganggur pak” teriak karyo. Kemudian
karyo meminta pendapat ke Mbah Modin selaku tokoh agama di deso Bangunjiwo.
Mbah Modin berkilah, bahwa ini aspirasi mereka umat yang ingin menegakkan
kebenaran . jadi ia tida bisa mengendalikan rakyat yang bergerak karena
mengikuti kata hati membela kebenaran.
Rakyat pun setuju dengan apa yang dikatakan mbah modin.
Terakhir karyo meminta
pendapat kepada anggota TNI, agar mengambil inisiatif bergerak merendam
kerusuhan. Parjo berkilah, bukan ranah tugas dan wewenang. Tugas dan wewenangnya hanya menjaga keamanan dan
pertahanan negara. Karyo seketika kebingungan.
Rakyat saling berbenturan hingga banyaknya korban yang berjatuhan tanpa mau
menunggu hasil secara hukum. Demokrasi di negara ini sebatas mengajak orang
melihat betapa nikmatnya kekuasaan, bukan betapa beratnya kekuasaan. Logikanya
orang cenderung menghindar dari pekerjaan-pekerjaan berat. Anehnya kita saling merebutkan
pekerjaan yang berat. Betapa hebatnya manusia-manusia super yang berebut siap
menanggug beban yang beratnya kekuasaan. Mawas diri sangat diperlukan agar muncul
tekat dan keberanian melakukan perubahan. Berubah dari bangsa yang jongos
menjadi bahasa yang bedaulat. Berubah dari bangsa yang miskin menjadi bangsa
yang sejahtera. Berubah dari bangsa yang hina menjadi bangsa yang bermartabat.
Sebuah perubahan yang besar dan mendasar. Untuk itu bangsa ini harus berani
mengambil resiko. Globalisasi gelombang tiga akan mendongkrak pintu peradaban
negara ini. Kalu seluruh elemen bangsa ini tidak siap melkukan perubahan besar
dan medasar, maka nasib negara pun tidak mustahil segera bubar. Pada akhirnya
semua rakyat dan para tokoh pun mulai sadar akan artinya sebuah demokrasi yang
baik. Hingga tauran pun murah meredah dan berujung sebuah perdamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar