Rabu, 14 Oktober 2015

Ulasan drama “Mengancam Kenangan”
Pengarang : Iruka Dhanishwara
Bahasa      : Bahasa Indonesia, Melayu
Genre        : Teater
Sutradara : Ibrahim Bra
Pemeran :
1.      Nyonya
2.      Debu-debu
3.      Anak
4.      Pacar anak
5.      Suami

Mengancam kenangan adalah sebuah pertunjukan teater yag ditulis oleh Iruka Dhanishwara. Grup teater ini masih di bilang cukup muda , karena didirikan pada tahun 2013 lalu. Dengan disutradarai oleh Ibrahim Bra yang sebelumnya berkecimpung di grup teater universitas PGRI Semarang. Teater yang tampil ke-4  secara perdana di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang, tepatnya Kamis, 8 Oktober 2015, menampilkan sebuah pertunjukan yang begitu memukau perhatian para penonton. pengambilan judul “Mengancam Kenangan” ini memerlukan pertimbangan yang matang. Teater ini menceritakan tentang bagaimana cara untuk melangkah ke masa yang lebih baik di masa depan tanpa ketakutan masa lalu yang telah lampau. Tujuan yang disampaikan oleh pengarang, agar kita dapat melangkah menyongsong masa depan, tanpa terbayang akan kenangan yang telah lalu.
Awal cerita sebuah kenangan yang selalu menghantui nyonya di setiap waktu. Dari seseorang yang begitu dicintainya telah meninggalkan dirinya tanpa ada kabar atupun berita. Ketika penantian kedatangan seorang kekasih yang di tunggu tak kunjung datang, sehingga nyonya merasa begitu kesepian . Namun kesepiannya ia tutupi dengan rasa sabar tanpa harus mengeluh ataupun menangis. Rasa rindu yang ditutupinya tak akan menghilangkan semangat di dirinya untuk sebuah penantian . Waktu terus berlalu, akhirnya putuslah harapan nyonya atas segala penantiannya. Hingga  nyonya lebih memilih kenangan, dengan adanya figura di dinding dan debu-debu yang menempel di dinding yang setia sebagai saksi akan segala kenangan.
      Hingga pada suatu ketika sang anak ingin mengetahui tentang masa lalu yang belum ia ketahui. Namun Nyonya enggan untuk menceritakan kepada anaknya. Sang anak merengeh kepada sang ibunda, agar sang ibunda dapat menceritakan segala masa lalu yang selalu menghantui ibunda. Tetapi nyonya enggan untuk menceritakan kenangan-kenangan tersebut, karena nyonya tidak mau memberi beban berat kepada putranya. Lantas ibunda mengatakan kepada sang anak “ Bahwa masa lalu hanya perantara, bahkan tidak bisa menceritakan apa-apa, karena sebuah kenangan dan ingatan adalah dua hal yang berbeda”. Sang anak pun awalnya tidak menerima apa yang telah diucapkan oleh ibundanya, namun karena rasa hormat anak tersebut kepada ibundanya. Sang anak dengan perlahan dapat menerima keputusan ibundanya yang telah bungkam akan segala kenangan yang setiap waktu menghantuinya.
      Ketika sang nyonya ingin menghapus segala kenangan, kenangan tersebut semakin menguat. Ketika debu-debu yang serayak merasakan kesedihan nyonya akan segala kenangan yang begitu meyakitinya. Debu-debu seraya mengusik penantian nyonya, agar nyonya menghentikn saja penantian yang tidak pasti. Tetapi nyonya melawan segala ucapan debu-debu. Namun yang terjadi, seseorang yang telah ditunggu oleh nyoya tidak kunjung datang. Dari situlah nyonya yakin bahwa penantiannya hanyalah sia-sia. Hingga nyonya menyadari bahwa, itu semua tinggal kenangan. Sesekali nyonya melangkah beranjak yang ditemukan hanyalah kenangan suami dan anaknya. Nyonya mencoba untuk melupakan segala kenangan yang ada, namun pada akhirnya nyonya tak bisa melupakan karena sebuah kenangan akan selalu hadir di setiap langkah-langkah kehidupannya.
      Dari situlah nyonya menyadari bahwa, kenangan itu datang dengan undangan yang tidak disengaja. Maka, kenangan itu akan semakin menjadi, semakin menumpuk, dan tidak akan ada habisnya. Hingga ketika pagi menghantarkan jejak di teras rumahnya,  Nyonya merasa sedih dan bahagia. Merasa sedih karena kenangan seketika seperti menepi. Merasa bahagia karena kenangan ada di depan matanya. Anak lelaki yang Nyonya ceritakan pada dinding-dinding dan debu yang berpendar di lampu kamarnya menjejakkan kaki di teras rumah.  “ Ibu ,maukah kau ceritakan kemana ayah dan sayap emas pergi ?” .Namun Nyonya hanya terdiam. Dan yang mengerti hanyalah bekas figura yang pernah tergantung di dinding dan debu-debu yang masih menempel. Meskipun demikian, hanya kenangananlah yang memenuhi seluruh ruangan hidup mereka berdua.

Kenangan itu bagaikan bak mandi yang telah terisi penuh dan akan selalu terisi oleh air. Sehingga kenangan tidak ada yang akan mampu menghapunya, dan akan selalu kekal dan abadi. Meskipun kenangan tidak mampu terhapuskan tapi kenangan itu dapat menepi. “ Jadi, satu-satunya cara mengancamnya adalah cukup dengan diam, terima saja, saksikan bagaimana ia terus tumbuh di dalam diri kita”, ucap sang anak. “Jadi, apakah ibu mau menceritakan ke mana ayah dan sayap emasnya pergi “, ucap sang anak agar ibu mau menceritakan kepadanya, tentang apa yang ingin ia ketahui dari bundanya. Ibu mengatakan “Kau yang tidak pernah memahami, bagaimana sebuah ceritaseharusnya diceritakan dan tetap menyimpan rahasianya, Nak..”. Sama seperti kenangan yang menyimpan rapat-rapat rahasia setiap insan. Dan , karena rahasia paling sempurna, setiap insan akan merasa diancam oleh masa lalunya, masa yang sedang dilaluinya, dan masa depan yang menantinya. Sama seperti kenangan yag sangat bungkam pada setiap yang dilalui, setiap insang akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui sendiri, tanpa orang lain. Cara yang terbaik memberikan ancaman pada kenangan adalah menerima,menyaksikan, dan berlapang dada bahwa kenangan itu akan ada di tempatnya pada seluruh sisa hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak Kenal Maka Harus Kenalan Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika ...