Ulasan drama “Mengancam Kenangan”
Pengarang :
Iruka Dhanishwara
Bahasa :
Bahasa Indonesia, Melayu
Genre :
Teater
Sutradara :
Ibrahim Bra
Pemeran :
1. Nyonya
2. Debu-debu
3. Anak
4. Pacar
anak
5. Suami
Mengancam kenangan
adalah sebuah pertunjukan teater yag ditulis oleh Iruka Dhanishwara. Grup
teater ini masih di bilang cukup muda , karena didirikan pada tahun 2013 lalu.
Dengan disutradarai oleh Ibrahim Bra yang sebelumnya berkecimpung di grup
teater universitas PGRI Semarang. Teater yang tampil ke-4 secara perdana di Gedung Pusat Lantai 7
Universitas PGRI Semarang, tepatnya Kamis, 8 Oktober 2015, menampilkan sebuah
pertunjukan yang begitu memukau perhatian para penonton. pengambilan judul
“Mengancam Kenangan” ini memerlukan pertimbangan yang matang. Teater ini
menceritakan tentang bagaimana cara untuk melangkah ke masa yang lebih baik di
masa depan tanpa ketakutan masa lalu yang telah lampau. Tujuan yang disampaikan
oleh pengarang, agar kita dapat melangkah menyongsong masa depan, tanpa
terbayang akan kenangan yang telah lalu.
Awal cerita sebuah kenangan
yang selalu menghantui nyonya di setiap waktu. Dari seseorang yang begitu
dicintainya telah meninggalkan dirinya tanpa ada kabar atupun berita. Ketika penantian
kedatangan seorang kekasih yang di tunggu tak kunjung datang, sehingga nyonya
merasa begitu kesepian . Namun kesepiannya ia tutupi dengan rasa sabar tanpa
harus mengeluh ataupun menangis. Rasa rindu yang ditutupinya tak akan
menghilangkan semangat di dirinya untuk sebuah penantian . Waktu terus berlalu,
akhirnya putuslah harapan nyonya atas segala penantiannya. Hingga nyonya lebih memilih kenangan, dengan adanya
figura di dinding dan debu-debu yang menempel di dinding yang setia sebagai
saksi akan segala kenangan.
Hingga
pada suatu ketika sang anak ingin mengetahui tentang masa lalu yang belum ia
ketahui. Namun Nyonya enggan untuk menceritakan kepada anaknya. Sang anak
merengeh kepada sang ibunda, agar sang ibunda dapat menceritakan segala masa
lalu yang selalu menghantui ibunda. Tetapi nyonya enggan untuk menceritakan
kenangan-kenangan tersebut, karena nyonya tidak mau memberi beban berat kepada
putranya. Lantas ibunda mengatakan kepada sang anak “ Bahwa masa lalu hanya
perantara, bahkan tidak bisa menceritakan apa-apa, karena sebuah kenangan dan
ingatan adalah dua hal yang berbeda”. Sang anak pun awalnya tidak menerima apa
yang telah diucapkan oleh ibundanya, namun karena rasa hormat anak tersebut
kepada ibundanya. Sang anak dengan perlahan dapat menerima keputusan ibundanya
yang telah bungkam akan segala kenangan yang setiap waktu menghantuinya.
Ketika
sang nyonya ingin menghapus segala kenangan, kenangan tersebut semakin menguat.
Ketika debu-debu yang serayak merasakan kesedihan nyonya akan segala kenangan
yang begitu meyakitinya. Debu-debu seraya mengusik penantian nyonya, agar
nyonya menghentikn saja penantian yang tidak pasti. Tetapi nyonya melawan
segala ucapan debu-debu. Namun yang terjadi, seseorang yang telah ditunggu oleh
nyoya tidak kunjung datang. Dari situlah nyonya yakin bahwa penantiannya
hanyalah sia-sia. Hingga nyonya menyadari bahwa, itu semua tinggal kenangan.
Sesekali nyonya melangkah beranjak yang ditemukan hanyalah kenangan suami dan
anaknya. Nyonya mencoba untuk melupakan segala kenangan yang ada, namun pada
akhirnya nyonya tak bisa melupakan karena sebuah kenangan akan selalu hadir di
setiap langkah-langkah kehidupannya.
Dari
situlah nyonya menyadari bahwa, kenangan itu datang dengan undangan yang tidak
disengaja. Maka, kenangan itu akan semakin menjadi, semakin menumpuk, dan tidak
akan ada habisnya. Hingga ketika pagi menghantarkan jejak di teras
rumahnya, Nyonya merasa sedih dan
bahagia. Merasa sedih karena kenangan seketika seperti menepi. Merasa bahagia
karena kenangan ada di depan matanya. Anak lelaki yang Nyonya ceritakan pada
dinding-dinding dan debu yang berpendar di lampu kamarnya menjejakkan kaki di
teras rumah. “ Ibu ,maukah kau ceritakan
kemana ayah dan sayap emas pergi ?” .Namun Nyonya hanya terdiam. Dan yang mengerti
hanyalah bekas figura yang pernah tergantung di dinding dan debu-debu yang
masih menempel. Meskipun demikian, hanya kenangananlah yang memenuhi seluruh
ruangan hidup mereka berdua.
Kenangan itu bagaikan
bak mandi yang telah terisi penuh dan akan selalu terisi oleh air. Sehingga
kenangan tidak ada yang akan mampu menghapunya, dan akan selalu kekal dan
abadi. Meskipun kenangan tidak mampu terhapuskan tapi kenangan itu dapat
menepi. “ Jadi, satu-satunya cara mengancamnya adalah cukup dengan diam, terima
saja, saksikan bagaimana ia terus tumbuh di dalam diri kita”, ucap sang anak.
“Jadi, apakah ibu mau menceritakan ke mana ayah dan sayap emasnya pergi “, ucap
sang anak agar ibu mau menceritakan kepadanya, tentang apa yang ingin ia
ketahui dari bundanya. Ibu mengatakan “Kau yang tidak pernah memahami,
bagaimana sebuah ceritaseharusnya diceritakan dan tetap menyimpan rahasianya,
Nak..”. Sama seperti kenangan yang menyimpan rapat-rapat rahasia setiap insan.
Dan , karena rahasia paling sempurna, setiap insan akan merasa diancam oleh
masa lalunya, masa yang sedang dilaluinya, dan masa depan yang menantinya. Sama
seperti kenangan yag sangat bungkam pada setiap yang dilalui, setiap insang
akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui sendiri, tanpa orang lain. Cara yang
terbaik memberikan ancaman pada kenangan adalah menerima,menyaksikan, dan
berlapang dada bahwa kenangan itu akan ada di tempatnya pada seluruh sisa
hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar