Sastra
Pemersatu Jiwa
Peringatan Bulan Bahasa 2016 Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni, Universitas PGRI Semarang telah tiba. Sebagaimana peringatan yang
selalu ditungu-tunggu yang sebenarnya bertepatan pula dengan peringatan Sumpah
Pemuda, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Saat ini peringatan Bulan Bahasa
sudah dibuka dengan begitu semarak. Pembukaan peringatan bulan bahasa di sebuah
gedung kebanggan universitas PGRI Semarang yang begitu megah tidak lain gedung
Balairung. Gedung bertepatan di tengah-tengah antara Gedung Pusat, Gedung B,
dan Gedung Utama. Pelaksanaan launching Gebyar
Bulan Bahasa dilaksanakan tepatnya hari Rabu, 19 Oktober 2016, pukul 09.00 WIB.
Pelaksanaan launching
Gebyar Bulan Bahasa yang berlangsung begitu meriah dengan mengusung tema
UPGRIS Bersastra !. Dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra ! tentulah tidak
lepas dari sastrawan-sastrawan yang telah menorehkan sejuta kepiawaannya dalam
bersastra. Launching Gebyar Bulan
Bahasa di meriahkan grup musikalisasi puisi yaitu Biscuittime yang menyambut
datangnya peserta acara launching Gebyar
Bulan Bahasa. Selain itu disambung dengan pembacaan puisi oleh rektor UPGRIS,
tidak lain ialah Bapak Muhdi., S.H., S.Hum.
dengan diiringi petikan-petikan senar nan syahdu dari tangan beliau.
Tidak mau kalah rektor, wakil rektor pun juga ikut berpuisi yang diiringi
dengan tembang jawa yang seketika menarik perhatian mata-mata peserta yang
menghadiri acara launching Gebyar
Bulan Bahasa.
UPGRIS Bersastra !, semestinya tema tersebut mengandung
sebuah makna yang kiranya dapat menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak, UPGRIS yang
merupakan sebuah sebutan pendek yang berasal dari Universitas PGRI Semarang,
dengan penambahan sebuah kata Bersastra. Peringatan Bulan Bahasa dengan
mengusung tema UPGRIS Bersastra, dengan tujuan FPBS mengajak semua elemen
UPGRIS berpartisipasi dalam pelaksanaan bulan bahasa. Fakultar Pendidikan
Bahasa dan Seni juga turut mengajak semua elemen UPGRIS bahwasanya sastra bukanlah
milik elemen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni saja. Melainkan milik kita
bersama seluruh elemen UPGRIS dan milik seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagaimana yang telah di lontarkan oleh ibu suci selaku
wakil rektor Universitas PGRI Semarang bahwasanya, “sastra bukanlah milik
anggota FPBS melainkan milik kita semua , milik UPGRIS dan milik semua
masyarakat Indonesia”. kalimat tersebut serontak mengenguatkan dan
mempersatukan jiwa, seyogyanya ketika sebuah sastra yang dikembangkan oleh
sastrawan atau pengarang tentulah selalu memiliki makna. Dengan makna tersebut
tentulah serentak sebuah sastra yang begitu banyak macamnya dapat mempersatukan
jiwa, tanpa harus memandang derajat seseorang, kedudukan seseorang, tua, dan
muda seseorang.
Sastra yang selalu erat kaitannya dengan sebuah seni. Sastra
dan seni bukanlah dua kata yang memiliki makna yang sama melainkan memiliki
kaitan yang erat dan diantara keduanya salaing berkesinambungan. Hal tersebut
dapat kita cermati makna antara sastra dan seni menurut kamus besar bahasa
Indonesia. Sastra, bahasa (kata-kata, gaya bahasa) dan seni, sebuah kesanggupan
akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi.
Sastra yang dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Tentulah
menjadi sebuah sajian yang begitu menarik. Lontaran kalimat tersebut kiranya
mengingatkan kita dengan untaian-untaian kata sumpah pemuda, yang mana
dilontarkan bahwa
Kami Putra dan Putri
Indonesaia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri
Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri
Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Dapat kita cermati pada bait terakhir, bahwasanya putra
dan putri Indonesia menjunjung bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia. dengan
begitu adanya persatuan bukan hanya dengan adanya kekuatan bersama dalam
melawan penjajahan melainkan bahasa yang menjadi pemersatu masayarakat dalam
Negara mauapun bangsa.
Begitu pula apa yang sedang dialami oleh Indonesia yang
terkenal dengan banyaknya pulau, baik pulau besar maupun kecil yang dihuni oleh
suku-suku yang tersebar luas di seluruh kepulauan Indonesia. semakin banyaknya
suku yang terdapat dalam sebuah Negara tentunya banyak pula keaneragaman
kebudayaan dan bahasa yang digunakan. Sehingga parapemimpin Negara Indonesia
memikirkan bahasa persatuan untuk menyatukan dan merangkul seluruh masyarakat
Indonesi. Hingga pada akhirnya tercentuslah bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, sebuah sastra yang
tidak lain dapat dimaknai sebagai bahasa
yang kiranya dapat menyatukan semua kalangan tanpa harus memikirkan perbedaan
derajat seseorang, perbedaan kedudukan seseorang, tua dan muda. Dengan adanya
sebuah sastra yang dapat dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Seperti halnya
bangsa Indonesia yang merupakan Negara kepulauan dengan banyak suku, dan keaneragaman
kebudayaan maupun bahasa. Tentunya diharapkan dapat tercapai bangsa dan negara
yang bersatu.
Dengan adanya sastra yang dapat dijadikan pemesatu jiwa
di semua kalanggan semoga dapat menambah rasa persatuan untuk menjaga keutuhan.
Tentunya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan atau pengarang dapat dijadikan
sebuah penyemanagat bagi generasi muda untuk berkarya.
Intan
Maulia Marta,
Mahasiswa
Universitas PGRI Semarang,
FPBS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar