Selasa, 27 Desember 2016

Sastra Pemersatu Jiwa

Sastra Pemersatu Jiwa
            Peringatan Bulan Bahasa 2016 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang telah tiba. Sebagaimana peringatan yang selalu ditungu-tunggu yang sebenarnya bertepatan pula dengan peringatan Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Saat ini peringatan Bulan Bahasa sudah dibuka dengan begitu semarak. Pembukaan peringatan bulan bahasa di sebuah gedung kebanggan universitas PGRI Semarang yang begitu megah tidak lain gedung Balairung. Gedung bertepatan di tengah-tengah antara Gedung Pusat, Gedung B, dan Gedung Utama. Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa dilaksanakan tepatnya hari Rabu, 19 Oktober 2016, pukul 09.00 WIB.
            Pelaksanaan launching Gebyar Bulan Bahasa yang berlangsung begitu meriah dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra !. Dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra ! tentulah tidak lepas dari sastrawan-sastrawan yang telah menorehkan sejuta kepiawaannya dalam bersastra. Launching Gebyar Bulan Bahasa di meriahkan grup musikalisasi puisi yaitu Biscuittime yang menyambut datangnya peserta acara launching Gebyar Bulan Bahasa. Selain itu disambung dengan pembacaan puisi oleh rektor UPGRIS, tidak lain ialah Bapak Muhdi., S.H., S.Hum.  dengan diiringi petikan-petikan senar nan syahdu dari tangan beliau. Tidak mau kalah rektor, wakil rektor pun juga ikut berpuisi yang diiringi dengan tembang jawa yang seketika menarik perhatian mata-mata peserta yang menghadiri acara launching Gebyar Bulan Bahasa.
            UPGRIS Bersastra !, semestinya tema tersebut mengandung sebuah makna yang kiranya dapat menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak, UPGRIS yang merupakan sebuah sebutan pendek yang berasal dari Universitas PGRI Semarang, dengan penambahan sebuah kata Bersastra. Peringatan Bulan Bahasa dengan mengusung tema UPGRIS Bersastra, dengan tujuan FPBS mengajak semua elemen UPGRIS berpartisipasi dalam pelaksanaan bulan bahasa. Fakultar Pendidikan Bahasa dan Seni juga turut mengajak  semua elemen UPGRIS bahwasanya sastra bukanlah milik elemen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni saja. Melainkan milik kita bersama seluruh elemen UPGRIS dan milik seluruh masyarakat Indonesia.
            Sebagaimana yang telah di lontarkan oleh ibu suci selaku wakil rektor Universitas PGRI Semarang bahwasanya, “sastra bukanlah milik anggota FPBS melainkan milik kita semua , milik UPGRIS dan milik semua masyarakat Indonesia”. kalimat tersebut serontak mengenguatkan dan mempersatukan jiwa, seyogyanya ketika sebuah sastra yang dikembangkan oleh sastrawan atau pengarang tentulah selalu memiliki makna. Dengan makna tersebut tentulah serentak sebuah sastra yang begitu banyak macamnya dapat mempersatukan jiwa, tanpa harus memandang derajat seseorang, kedudukan seseorang, tua, dan muda seseorang.
            Sastra yang selalu erat kaitannya dengan sebuah seni. Sastra dan seni bukanlah dua kata yang memiliki makna yang sama melainkan memiliki kaitan yang erat dan diantara keduanya salaing berkesinambungan. Hal tersebut dapat kita cermati makna antara sastra dan seni menurut kamus besar bahasa Indonesia. Sastra, bahasa (kata-kata, gaya bahasa) dan seni, sebuah kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi.
            Sastra yang dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Tentulah menjadi sebuah sajian yang begitu menarik. Lontaran kalimat tersebut kiranya mengingatkan kita dengan untaian-untaian kata sumpah pemuda, yang mana dilontarkan bahwa
Kami Putra dan Putri Indonesaia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
            Dapat kita cermati pada bait terakhir, bahwasanya putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia. dengan begitu adanya persatuan bukan hanya dengan adanya kekuatan bersama dalam melawan penjajahan melainkan bahasa yang menjadi pemersatu masayarakat dalam Negara mauapun bangsa.
            Begitu pula apa yang sedang dialami oleh Indonesia yang terkenal dengan banyaknya pulau, baik pulau besar maupun kecil yang dihuni oleh suku-suku yang tersebar luas di seluruh kepulauan Indonesia. semakin banyaknya suku yang terdapat dalam sebuah Negara tentunya banyak pula keaneragaman kebudayaan dan bahasa yang digunakan. Sehingga parapemimpin Negara Indonesia memikirkan bahasa persatuan untuk menyatukan dan merangkul seluruh masyarakat Indonesi. Hingga pada akhirnya tercentuslah bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia.
            Sebagaimana yang telah kita ketahui, sebuah sastra yang tidak lain  dapat dimaknai sebagai bahasa yang kiranya dapat menyatukan semua kalangan tanpa harus memikirkan perbedaan derajat seseorang, perbedaan kedudukan seseorang, tua dan muda. Dengan adanya sebuah sastra yang dapat dijadikan sebagai pemersatu jiwa. Seperti halnya bangsa Indonesia yang merupakan Negara kepulauan dengan banyak suku, dan keaneragaman kebudayaan maupun bahasa. Tentunya diharapkan dapat tercapai bangsa dan negara yang bersatu.
            Dengan adanya sastra yang dapat dijadikan pemesatu jiwa di semua kalanggan semoga dapat menambah rasa persatuan untuk menjaga keutuhan. Tentunya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan atau pengarang dapat dijadikan sebuah penyemanagat bagi generasi muda untuk berkarya.

Intan Maulia Marta,
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang,
 FPBS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tak Kenal Maka Harus Kenalan Zaman dahulu ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” namun ungkapan berbeda jika ...